Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 Oktober 2013
Sabtu, 03 Agustus 2013
Teknik Fotografi
- Ide pemotretan di malam hari bisa menjadi hal yang sedikit rumit bagi
seorang fotografer pemula, tetapi bagaimanapun juga dunia fotografi
adalah seni, karya serta sebuah teknologi yang sepenuhnya berhubungan
dengan cahaya. Apapun itu bentuk fotografinya, entah itu film atau
digital tidak menjadi masalah, yang pasti adalah Kita membutuhkan cahaya
untuk membuat sebuah foto.
Malam hari adalah suatu kondisi waktu dimana tidak ada sama sekali
cahaya matahari, dan bagi kebanyakan orang berpikir itu adalah waktu
yang tidak tepat untuk melakukan aktivitas fotografi. Dalam pengartian
yang lebih luas, pemahaman intuitif serta tingkat kepentingan cahaya
mutlak harus ada di dalam fotografi. Bagi fotografer, malam bisa menjadi
sebuah tantangan bagi mereka, karena pada waktu itu lah seorang
fotografer tidak menemui berkas-berkas cahaya yang indah turun dari
langit yang terpantul ke seluruh penjuru detail subyek dan semuanya bisa
menjadikan sebuah foto bisa tampak sangat menarik. Menantang bukan
berarti tidak mungkin, fotografi malam hari tidak saja tidak mungkin,
tetapi akan menjadi sebuah wadah menuangkan kreatifitas serta bisa
membantu Anda memberikan style pada hasil kerja fotografi Anda.
Malam Hari
Luangkan sedikit waktu Anda ketika malam hari tiba, pergi keluar nikmati
remang-remang yang ada setelah matahari tenggelam. Latih mata Anda
dengan mengobservasi lingkungan sekitar, temukan semua perbedaan antara
siang hari dan malam hari, semua hal yang benar-benar unik anda temuakan
di malam hari. Perhatikan bagaimana bayangan tercipta di kolam-kolam
taman kota, bagaimana warna-warni termutasi serta bercampur baur dengan
lampu taman serta lampu jalanan. Rasakan nuansa malam hari, seberapa
besar cahaya malam hari bisa merubah penampilan sebuah pohon besar, atau
mobil yang sedang di parkir di ujung jalan, yang biasanya tampak begitu
membosankan dan ketika malam hari akan tampak berkilauan di bawah sinar
rembulan.
Kota di Malam Hari
Pemandangan perkotaan pada waktu malam hari bisa menjadi wadah menggali
kreatifitas bagi seorang fotografer. Tidak ada cahaya matahari sama
sekali, tetapi terdapat begitu banyak titik-titik sumber cahaya dengan
kualitas tone cahaya yang unik dari berbagai arah. InFotografi.com
akan mencoba berbagi pengalaman ketika melakukan kegiatan fotografi di
malam hari ke dalam beberapa rekomendasi di bawah ini, dengan membaca
artikel ini secara penuh, harapan kami Anda mampu untuk menggali
kemampuan Anda untuk mengambil foto-foto terbaik Anda.
Perangkat fotografi yang tepat
Anda tidak akan bisa memotret keindahan malam hari hanya dengan kamera
saku, dimana di dalam sistem kamera tersebut tidak memiliki kendali
penuh terhadap fitur-fitur fotografi. Anda akan kesulitan mendapatkan
gambar impian Anda jika hanya mengandalkan pemotretan bisa (bidik dan
jepret). Untuk memotret di malam hari setidaknya bawa serta
perangkat-perangkat di bawah ini beserta Anda:
- Tripod, kokoh tetapi cukup ringan memudahkan untuk mobilitas.
- DSLR
- Remote Shutter Release
- Lensa wide-angle (Optional), kebanyakan foto dramatis di malam hari dihasilkan oleh lensa wide
- Lens hood, berfungsi untuk mengurangi flare lensa.
Mungkin timbul pertanyaan pada diri Anda, kenapa tidak ada rekomendasi
tentang penggunaan flash? Artikel ini mengasumsikan Anda berada di
tengah kota dan kemungkinan terjadinya pemadaman listrik cukup kecil
sekali, dan Anda masih bisa melihat suasana kota dengan intensitas
cahaya yang cukup. Keadaaan serta kondisi sebuah kota mungkin
bervariasi, jadi jika Anda merasa perlu untuk membawa flash, maka tidak
ada salahnya Anda membawanya, toh perangkat fotografi tersebut cukup ringan untuk di bawa bukan?
Kenali dan pahami perangkat fotografi yang Anda bawa
Kemungkinan besar Anda akan menemui kegelapan, tentu saja karena pada
saat itu adalah malam hari. Pastikan Anda tahu dan mengerti bagaimana
mengoperasikan DSLR di dalam gelap. Alangkah baiknya jika Anda melakukan
pengaturan terlebih dahulu sebelum berangkat dan semuanya siap pada
saat pemotretan. Anda juga harus terbiasa dengan bagaimana cara memasang
remote shutter release serta tripod. Memang hal tersebut merupakan hal
yang sepele serta mudah, tetapi jika di lakukan dalam kegelapan tentunya
akan sedkit merepotkan.
Cobalah mengenali karakter lensa serta kamera Anda, bagaimana ketika
kamera berinteraksi dengan kondisi cahaya minim. Beberapa kamera mungkin
bisa lebih baik melakukan auto-focus ketika berada di cahaya remang.
Anda kemungkinan besar harus menggunakan manual-focus untuk mendapatkan
hasil terbaik, jika AF terus menerus mencari titik fokus, Anda bisa
melakukan cara alternatif dengan mengarahkan kamera ke bulan atau sumber
cahaya di kejauhan, biarkan AF memfokuskan pada titik paling jauh,
komposisi ulang dan potretlah. Hasil pemotretan DSLR juga bervariasi
pada pengaturan ISO tinggi serta long-exposure (tingkat noise). Jika
Anda memang bertujuan merekam pergerakan dan ingin menangkapnya dalam
freeze-frame maka tentunya Anda akan menggunakan ISO tinggi, dan mungkin
juga bukaan lensa yang sangat lebar. Hal yang perlu diingat adalah
sebuah tripod bisa menjadi tumpuan DSLR di satu tempat, tetapi tidak
efektif untuk merekam pergerakan sebuah subyek.
Ketahui apa yang Anda inginkan
Apakah Anda mencari freeze-frame di dalam kegelapan? hal tersebut bisa
dikatakan sangat sulit jika berbicara tentang teknologi kamera yang Anda
gunakan. Anda akan memerlukan pengaturan ISO yang cukup tinggi serta menggunakan lensa yang cukup cepat
(bukaan lebar seperti f/2.8 atau f/1.7). Hasilnya pasti akan memiliki
kedalaman fokus yang sempit dan berpotensial sekali memiliki banyak
noise. Anda juga akan memerlukan ISO tinggi serta aperture cepat jika
mencoba untuk memotret tanpa tripod, mungkin bisa Anda lakukan dengan
teknologi pada kamera baru, tetapi bersiaplah melakukan pengurangan
noise pada saat mengolah foto-foto tersebut.
Akan berkebalikan jika Anda ingin membuat foto atau gambar berkas cahaya
dari mobil yang melewati jalan raya atau menggunakan long-exposures
untuk mengambil fenomena cahaya di malam hari. Anda bisa menggunakan ISO
rendah (contoh : 100) untuk mengurangi noise dan bukaan kecil
(small-aperture) f/8 yang bisa melebarkan depth-of-field.
Hal ini berarti shutter akan terbuka lebih lama, membiarkan cahaya
lampu-lampu mobil masuk dan mengisi frame dengan lebih detail ke dalam
sensor kamera. Yang harus Anda perhatikan adalah, bahwa kebanyakan DSLR
memiliki pengaturan shutter otomatis sampai pada 30 detik, jadi jika
Anda membutuhkan shutter lebih lama untuk mendapatkan exposure yang
tepat maka Anda harus tahu bagaimana menggunakan mode Bulb pada kamera
Anda. Bulb merupakan mode kamera dimana shutter-speed ditentukan dari
berapa lama Anda menekan tombol shutter-release, dan akan sangat
membantu jika Anda menggunakan tripod.
Satu hal yang juga perlu diingat bahwa sejauh ini sensor digital
memiliki karakter lebih lama shutter terbuka, maka noise yang tercipta
juga akan semakin banyak, hal ini terlepas dari pengaturan ISO di dalam
kamera. Untuk mengatasi kondisi ini, Anda bisa memanfaatkan fitur
Noise-Reduction yang ada di dalam kamera Anda. Kebanyakan DSLR secara
otomatis melakukan hal ini pada saat pengambilan gambar long-exposures,
dan biasanya waktu yang dibutuhkan adalah sama dengan rentang waktu
shutter terbuka.
Kenali Kota Anda
Setiap kota pasti berbeda, dari tata kota, tempat-tempat menarik,
penduduk, semuanya membentuk karakter kota tersebut, dan semua
elemen-elemen itu kecuali tata-kota pasti berubah ketika malam hari
tiba. Anda seharusnya paling tidak memiliki pengetahuan dan mengenal
tentang kota yang akan Anda potret di malam hari, Atau bisa juga Anda
membawa serta teman atau seseorang yang lebih mengenal kota tersebut.
Kota-kota besar selalu menawarkan peluang besar untuk melakukan
pemotretan arsitektural yang artistik. Kota besar juga bisa menjadi
berbahaya di malam hari, khususnya bagi seorang fotografer yang
berkalung kamera berharga jutaan rupiah.
Kenali Kota Anda untuk alasan keamanan, sebelum Anda turun ke jalan
dengan kamera menggelantung di leher. Cobalah berjalan keliling kota di
siang hari! kenali jalanan serta di mana tempat-tempat seperti taman,
patung, monumen yang membuat Anda tertarik. Pergilah juga keluar di
malam hari tanpa kamera, dan kenali bagaimana semuanya terlihat di malam
hari.
Tetap waspada dan bukalah mata Anda, perhatikan keadaan sekitar dan
berjalanlah dengan rasa percaya diri, jangan sampai Anda terlihat
seperti seorang turis yang sedang memotret. Memotretlah secara
berkelompok jika itu memungkinkan, atau setidaknya pergilah bersama
seorang teman yang bisa melihat apa yang terjadi di belakang Anda.
Anda juga bisa melakukan aktivitas Nightscapes ini pada saat semua
penduduk kota terlelap. Seperti pada saat sebelum subuh di hari Minggu
sekitar pukul 3:30 atau 4:00, kafe-kafe pinggir jalan sudah tutup,
kondisi malam hari masih sama gelapnya, dan cahaya lampu juga masih
dengan kualitas yang sama kecuali hal ini tidak berlaku jika Anda memang
bertujuan memotret kehidupan malam di sepanjang jalanan kota. Memotret
pada saat subuh juga akan memberikan sensasi perubahan warna dari langit
yang hitam perlahan-lahan berubah menjadi kemerahan seiring dengan
terbitnya matahari, dan pada akhirnya Anda akan mendapatkan "magic-hour"
yang berasal dari matahari itu sendiri.
Kenali Cuaca
Pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya dalam nightscape
photography adalah cuaca. Percaya atau tidak pemandangan kota di malam
hari akan terasa menakjubkan setelah hujan deras dan menyebabkan jalanan
basah yang berkilauan memantulkan cahaya lampu kota, tetapi hujan yang
turun dengan derasnya pada saat Anda memotret akan menjadi kejadian yang
menjengkelkan. Anda juga perlu memperhatikan bagaimana perubahan
langit, dan persiapkan diri Anda menghadapi cuaca buruk, jika Anda
merasa akan turun hujan pada saat itu alangkah baiknya jika mambawa jas
hujan serta pelindung perangkat fotografi Anda. Sempatkan untuk melihat
prakiraan cuaca di televisi siapa tahu Anda bisa memotret di jalanan
setelah hujan reda.
05.23
Smartvone
Teknik Fotografi
- Ide pemotretan di malam hari bisa menjadi hal yang sedikit rumit bagi
seorang fotografer pemula, tetapi bagaimanapun juga dunia fotografi
adalah seni, karya serta sebuah teknologi yang sepenuhnya berhubungan
dengan cahaya. Apapun itu bentuk fotografinya, entah itu film atau
digital tidak menjadi masalah, yang pasti adalah Kita membutuhkan cahaya
untuk membuat sebuah foto.
Malam hari adalah suatu kondisi waktu dimana tidak ada sama sekali
cahaya matahari, dan bagi kebanyakan orang berpikir itu adalah waktu
yang tidak tepat untuk melakukan aktivitas fotografi. Dalam pengartian
yang lebih luas, pemahaman intuitif serta tingkat kepentingan cahaya
mutlak harus ada di dalam fotografi. Bagi fotografer, malam bisa menjadi
sebuah tantangan bagi mereka, karena pada waktu itu lah seorang
fotografer tidak menemui berkas-berkas cahaya yang indah turun dari
langit yang terpantul ke seluruh penjuru detail subyek dan semuanya bisa
menjadikan sebuah foto bisa tampak sangat menarik. Menantang bukan
berarti tidak mungkin, fotografi malam hari tidak saja tidak mungkin,
tetapi akan menjadi sebuah wadah menuangkan kreatifitas serta bisa
membantu Anda memberikan style pada hasil kerja fotografi Anda.
Malam Hari
Luangkan sedikit waktu Anda ketika malam hari tiba, pergi keluar nikmati
remang-remang yang ada setelah matahari tenggelam. Latih mata Anda
dengan mengobservasi lingkungan sekitar, temukan semua perbedaan antara
siang hari dan malam hari, semua hal yang benar-benar unik anda temuakan
di malam hari. Perhatikan bagaimana bayangan tercipta di kolam-kolam
taman kota, bagaimana warna-warni termutasi serta bercampur baur dengan
lampu taman serta lampu jalanan. Rasakan nuansa malam hari, seberapa
besar cahaya malam hari bisa merubah penampilan sebuah pohon besar, atau
mobil yang sedang di parkir di ujung jalan, yang biasanya tampak begitu
membosankan dan ketika malam hari akan tampak berkilauan di bawah sinar
rembulan.
Kota di Malam Hari
Pemandangan perkotaan pada waktu malam hari bisa menjadi wadah menggali
kreatifitas bagi seorang fotografer. Tidak ada cahaya matahari sama
sekali, tetapi terdapat begitu banyak titik-titik sumber cahaya dengan
kualitas tone cahaya yang unik dari berbagai arah. InFotografi.com
akan mencoba berbagi pengalaman ketika melakukan kegiatan fotografi di
malam hari ke dalam beberapa rekomendasi di bawah ini, dengan membaca
artikel ini secara penuh, harapan kami Anda mampu untuk menggali
kemampuan Anda untuk mengambil foto-foto terbaik Anda.
Perangkat fotografi yang tepat
Anda tidak akan bisa memotret keindahan malam hari hanya dengan kamera
saku, dimana di dalam sistem kamera tersebut tidak memiliki kendali
penuh terhadap fitur-fitur fotografi. Anda akan kesulitan mendapatkan
gambar impian Anda jika hanya mengandalkan pemotretan bisa (bidik dan
jepret). Untuk memotret di malam hari setidaknya bawa serta
perangkat-perangkat di bawah ini beserta Anda:
- Tripod, kokoh tetapi cukup ringan memudahkan untuk mobilitas.
- DSLR
- Remote Shutter Release
- Lensa wide-angle (Optional), kebanyakan foto dramatis di malam hari dihasilkan oleh lensa wide
- Lens hood, berfungsi untuk mengurangi flare lensa.
Mungkin timbul pertanyaan pada diri Anda, kenapa tidak ada rekomendasi
tentang penggunaan flash? Artikel ini mengasumsikan Anda berada di
tengah kota dan kemungkinan terjadinya pemadaman listrik cukup kecil
sekali, dan Anda masih bisa melihat suasana kota dengan intensitas
cahaya yang cukup. Keadaaan serta kondisi sebuah kota mungkin
bervariasi, jadi jika Anda merasa perlu untuk membawa flash, maka tidak
ada salahnya Anda membawanya, toh perangkat fotografi tersebut cukup ringan untuk di bawa bukan?
Kenali dan pahami perangkat fotografi yang Anda bawa
Kemungkinan besar Anda akan menemui kegelapan, tentu saja karena pada
saat itu adalah malam hari. Pastikan Anda tahu dan mengerti bagaimana
mengoperasikan DSLR di dalam gelap. Alangkah baiknya jika Anda melakukan
pengaturan terlebih dahulu sebelum berangkat dan semuanya siap pada
saat pemotretan. Anda juga harus terbiasa dengan bagaimana cara memasang
remote shutter release serta tripod. Memang hal tersebut merupakan hal
yang sepele serta mudah, tetapi jika di lakukan dalam kegelapan tentunya
akan sedkit merepotkan.
Cobalah mengenali karakter lensa serta kamera Anda, bagaimana ketika
kamera berinteraksi dengan kondisi cahaya minim. Beberapa kamera mungkin
bisa lebih baik melakukan auto-focus ketika berada di cahaya remang.
Anda kemungkinan besar harus menggunakan manual-focus untuk mendapatkan
hasil terbaik, jika AF terus menerus mencari titik fokus, Anda bisa
melakukan cara alternatif dengan mengarahkan kamera ke bulan atau sumber
cahaya di kejauhan, biarkan AF memfokuskan pada titik paling jauh,
komposisi ulang dan potretlah. Hasil pemotretan DSLR juga bervariasi
pada pengaturan ISO tinggi serta long-exposure (tingkat noise). Jika
Anda memang bertujuan merekam pergerakan dan ingin menangkapnya dalam
freeze-frame maka tentunya Anda akan menggunakan ISO tinggi, dan mungkin
juga bukaan lensa yang sangat lebar. Hal yang perlu diingat adalah
sebuah tripod bisa menjadi tumpuan DSLR di satu tempat, tetapi tidak
efektif untuk merekam pergerakan sebuah subyek.
Ketahui apa yang Anda inginkan
Apakah Anda mencari freeze-frame di dalam kegelapan? hal tersebut bisa
dikatakan sangat sulit jika berbicara tentang teknologi kamera yang Anda
gunakan. Anda akan memerlukan pengaturan ISO yang cukup tinggi serta menggunakan lensa yang cukup cepat
(bukaan lebar seperti f/2.8 atau f/1.7). Hasilnya pasti akan memiliki
kedalaman fokus yang sempit dan berpotensial sekali memiliki banyak
noise. Anda juga akan memerlukan ISO tinggi serta aperture cepat jika
mencoba untuk memotret tanpa tripod, mungkin bisa Anda lakukan dengan
teknologi pada kamera baru, tetapi bersiaplah melakukan pengurangan
noise pada saat mengolah foto-foto tersebut.
Akan berkebalikan jika Anda ingin membuat foto atau gambar berkas cahaya
dari mobil yang melewati jalan raya atau menggunakan long-exposures
untuk mengambil fenomena cahaya di malam hari. Anda bisa menggunakan ISO
rendah (contoh : 100) untuk mengurangi noise dan bukaan kecil
(small-aperture) f/8 yang bisa melebarkan depth-of-field.
Hal ini berarti shutter akan terbuka lebih lama, membiarkan cahaya
lampu-lampu mobil masuk dan mengisi frame dengan lebih detail ke dalam
sensor kamera. Yang harus Anda perhatikan adalah, bahwa kebanyakan DSLR
memiliki pengaturan shutter otomatis sampai pada 30 detik, jadi jika
Anda membutuhkan shutter lebih lama untuk mendapatkan exposure yang
tepat maka Anda harus tahu bagaimana menggunakan mode Bulb pada kamera
Anda. Bulb merupakan mode kamera dimana shutter-speed ditentukan dari
berapa lama Anda menekan tombol shutter-release, dan akan sangat
membantu jika Anda menggunakan tripod.
Satu hal yang juga perlu diingat bahwa sejauh ini sensor digital
memiliki karakter lebih lama shutter terbuka, maka noise yang tercipta
juga akan semakin banyak, hal ini terlepas dari pengaturan ISO di dalam
kamera. Untuk mengatasi kondisi ini, Anda bisa memanfaatkan fitur
Noise-Reduction yang ada di dalam kamera Anda. Kebanyakan DSLR secara
otomatis melakukan hal ini pada saat pengambilan gambar long-exposures,
dan biasanya waktu yang dibutuhkan adalah sama dengan rentang waktu
shutter terbuka.
Kenali Kota Anda
Setiap kota pasti berbeda, dari tata kota, tempat-tempat menarik,
penduduk, semuanya membentuk karakter kota tersebut, dan semua
elemen-elemen itu kecuali tata-kota pasti berubah ketika malam hari
tiba. Anda seharusnya paling tidak memiliki pengetahuan dan mengenal
tentang kota yang akan Anda potret di malam hari, Atau bisa juga Anda
membawa serta teman atau seseorang yang lebih mengenal kota tersebut.
Kota-kota besar selalu menawarkan peluang besar untuk melakukan
pemotretan arsitektural yang artistik. Kota besar juga bisa menjadi
berbahaya di malam hari, khususnya bagi seorang fotografer yang
berkalung kamera berharga jutaan rupiah.
Kenali Kota Anda untuk alasan keamanan, sebelum Anda turun ke jalan
dengan kamera menggelantung di leher. Cobalah berjalan keliling kota di
siang hari! kenali jalanan serta di mana tempat-tempat seperti taman,
patung, monumen yang membuat Anda tertarik. Pergilah juga keluar di
malam hari tanpa kamera, dan kenali bagaimana semuanya terlihat di malam
hari.
Tetap waspada dan bukalah mata Anda, perhatikan keadaan sekitar dan
berjalanlah dengan rasa percaya diri, jangan sampai Anda terlihat
seperti seorang turis yang sedang memotret. Memotretlah secara
berkelompok jika itu memungkinkan, atau setidaknya pergilah bersama
seorang teman yang bisa melihat apa yang terjadi di belakang Anda.
Anda juga bisa melakukan aktivitas Nightscapes ini pada saat semua
penduduk kota terlelap. Seperti pada saat sebelum subuh di hari Minggu
sekitar pukul 3:30 atau 4:00, kafe-kafe pinggir jalan sudah tutup,
kondisi malam hari masih sama gelapnya, dan cahaya lampu juga masih
dengan kualitas yang sama kecuali hal ini tidak berlaku jika Anda memang
bertujuan memotret kehidupan malam di sepanjang jalanan kota. Memotret
pada saat subuh juga akan memberikan sensasi perubahan warna dari langit
yang hitam perlahan-lahan berubah menjadi kemerahan seiring dengan
terbitnya matahari, dan pada akhirnya Anda akan mendapatkan "magic-hour"
yang berasal dari matahari itu sendiri.
Kenali Cuaca
Pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya dalam nightscape
photography adalah cuaca. Percaya atau tidak pemandangan kota di malam
hari akan terasa menakjubkan setelah hujan deras dan menyebabkan jalanan
basah yang berkilauan memantulkan cahaya lampu kota, tetapi hujan yang
turun dengan derasnya pada saat Anda memotret akan menjadi kejadian yang
menjengkelkan. Anda juga perlu memperhatikan bagaimana perubahan
langit, dan persiapkan diri Anda menghadapi cuaca buruk, jika Anda
merasa akan turun hujan pada saat itu alangkah baiknya jika mambawa jas
hujan serta pelindung perangkat fotografi Anda. Sempatkan untuk melihat
prakiraan cuaca di televisi siapa tahu Anda bisa memotret di jalanan
setelah hujan reda.
Selasa, 30 Juli 2013
Fotografer Pemula -
Sebagai seorang fotografer pemula atau baru belajar tentang dunia
fotografi, artikel kali ini cocok untuk dibaca. Kami akan mengulas
beberapa gagasan yang bisa membantu kalian dalam proses menjadi seorang
fotografer.
Copyright: Danakore
1. Jangan tergesa-gesa membeli perangkat fotografi yang mahal
Kemungkinan untuk menghasilkan foto yang baik dengan menggunakan kamera yang murah seperti kamera saku sangat mungkin terjadi, jika tidak percaya lihat lah hasil-hasil foto berikut ini menggunakan kamera saku. Semakin banyak Sobat mengambil foto, maka kalian akan semakin mengerti tentang kebutuhan kamera ketika akan melakukan upgrade perangkat fotografi.2. Pertimbangkan membeli Tripod
Tripod yang tidak terlalu mahal dan kokoh kiranya layak untuk dipertimbangkan, terutama jika Sobat memiliki kecenderungan tangan yang bergetar, kalian akan terkejut dan puas ketika melihat hasil jepretan dengan menggunakan Tripod. jika ingin foto lebih stabil lagi, kalian bisa menggunakan fitur timer atau shutter release ketika menggunakan Tripod.3. Bawa kamera kalian kemanapun pergi
Peluang foto yang bagus sering kali datang ketika sobat tidak menyadari
atau mengharapkannya, dan jika kalian bisa menyederhanakan perangkat
kamera kalian, seperti membawa hanya tas kamera serta tripod maka
bawalah perangkat tersebut kemana kalian pergi, dan tentunya kalian
tidak akan menyesal ketika tiba-tiba mendapatkan peluang foto yang
jarang sekali terjadi. Jika Sobat memiliki handphone yang memiliki fitur
kamera, maka gunakan untuk mengambil gambar sebagai 'note'
untuk pemandangan itu, dan sobat bisa kembali dengan membawa kamera yang
sebenarnya.
4. Buatlah daftar foto yang ingin Sobat ambil
Jika sobat tidak bisa membawa serta kamera kalian, maka setidaknya
tetaplah membawa buku saku dan selalu mencatat tempat-tempat yang sobat
ingin kembali untuk memotret tempat tersebut. pastikan sobat mencatat
setiap detil yang penting, seperti pencahayaan, sehingga sobat bisa
kembali ketempat tersebut di waktu yang sama atau pada saat cuaca yang
tepat. Jika sobat tidak ingin membawa buku saku, maka kalian bisa
mengirimkan catatan via email lewat handphone,
5. Jangan mengabaikan subyek yang 'biasa' dalam fotografi
Sobat mungkin tidak melihat sesuatu yang menarik dan layak dipotret di
kamar tamu atau halaman belakang, tetapi setidaknya cobalah melihat
sekeliling dengan sudut pandang yang baru. Sobat mungkin bisa menemukan
spektrum cahaya atau beberapa bunga liar di halaman belakang rumah
kalian, seringkali sebuah obyek sederhana bisa menciptakan foto yang
bagus.
6. Nikmatilah proses belajar fotografi
Hal yang paling menarik mempelajari sebuah hobi seperti fotografi,
adalah tidak ada kata cukup dalam mempelajarinya. Sumber inspirasi
banyak sekali bisa ditemukan disekeliling kalian. Lihatlah semua hal
tersebut menggunakan mata seorang fotografer dan Sobat akan menemukan peluang foto yang tidak kalian sadari sebelumnya.
7. Manfaatkan Sumber online belajar fotografi gratis
Pelajari foto-foto yang dihasilkan oleh fotografer profesional melalui situs seperti flickr, atau website yang berbagi informasi tentang teknik fotografi seperti InFotografi,
disana bisa kalian temukan inspirasi dan tips tentang dunia fotografi.
Jika Sobat tertarik untuk belajar mengenai post-processing dan masih
belum ada anggaran biaya untuk membeli software seperti Adobe Photoshop,
cobalah gunakan software free seperti GIMP
8. Terus melakukan uji coba pada pengaturan kamera
Kamera saku yang Sobat miliki bisa jadi memiliki fitur yang jauh lebih
fleksibel dari yang kalian ketahui sekarang. Bacalah buku petunjuk atau
manual untuk bantuan mengartikan simbol-simbol yang ada dalam pengaturan
kamera. Cobalah memotret satu subyek dengan menggunakan pengaturan yang
berbeda, lihat dan pelajari serta pilihlah hasil mana yang paling
kalian sukai. Ketika me-review ulang foto-foto tersebut pada komputer,
coba lihat EXIF data setiap foto untuk melihat kembali pengaturan kamera
yang kalian gunakan saat memotret.
9. Pelajari aturan-aturan dasar
Seperti yang kita ketahui, banyak sekali informasi tentang dunia
fotografi tersebar secara online di internet. Mulailah dengan beberapa
artikel tentang komposisi. Terbukalah pada pendapat - pendapat dari
fotografer yang lebih berpengalaman mengenai teknik fotografi yang
mereka gunakan. Sobat tentunya harus mengetahui dan memahami aturan
dasar sebelum melanggarnya bukan?
10. Memotretlah secara rutin
Cobalah memotret sesuatu setiap hari, jika Sobat tidak bisa
melakukannya, maka pastikan kalian berlatih secara rutin sehingga Sobat
tidak lupa apa yang telah kalian pelajari sebelumnya. Cara yang paling
baik melakukan ini adalah memberikan pada diri sendiri sebuah tantangan
fotografi setiap minggunya.
11. Jangan takut untuk bereksperimen
Jika Sobat menggunakan kamera digital, lakukan uji coba secara terus
menerus dan kemungkinan besar kalian akan menemukan sesuatu yang sangat
kalian sukai, dan tentunya kalian akan belajar banyak melalui proses
belajar ini.
06.39
Smartvone
Fotografer Pemula -
Sebagai seorang fotografer pemula atau baru belajar tentang dunia
fotografi, artikel kali ini cocok untuk dibaca. Kami akan mengulas
beberapa gagasan yang bisa membantu kalian dalam proses menjadi seorang
fotografer.
Copyright: Danakore
1. Jangan tergesa-gesa membeli perangkat fotografi yang mahal
Kemungkinan untuk menghasilkan foto yang baik dengan menggunakan kamera yang murah seperti kamera saku sangat mungkin terjadi, jika tidak percaya lihat lah hasil-hasil foto berikut ini menggunakan kamera saku. Semakin banyak Sobat mengambil foto, maka kalian akan semakin mengerti tentang kebutuhan kamera ketika akan melakukan upgrade perangkat fotografi.2. Pertimbangkan membeli Tripod
Tripod yang tidak terlalu mahal dan kokoh kiranya layak untuk dipertimbangkan, terutama jika Sobat memiliki kecenderungan tangan yang bergetar, kalian akan terkejut dan puas ketika melihat hasil jepretan dengan menggunakan Tripod. jika ingin foto lebih stabil lagi, kalian bisa menggunakan fitur timer atau shutter release ketika menggunakan Tripod.3. Bawa kamera kalian kemanapun pergi
Peluang foto yang bagus sering kali datang ketika sobat tidak menyadari
atau mengharapkannya, dan jika kalian bisa menyederhanakan perangkat
kamera kalian, seperti membawa hanya tas kamera serta tripod maka
bawalah perangkat tersebut kemana kalian pergi, dan tentunya kalian
tidak akan menyesal ketika tiba-tiba mendapatkan peluang foto yang
jarang sekali terjadi. Jika Sobat memiliki handphone yang memiliki fitur
kamera, maka gunakan untuk mengambil gambar sebagai 'note'
untuk pemandangan itu, dan sobat bisa kembali dengan membawa kamera yang
sebenarnya.
4. Buatlah daftar foto yang ingin Sobat ambil
Jika sobat tidak bisa membawa serta kamera kalian, maka setidaknya
tetaplah membawa buku saku dan selalu mencatat tempat-tempat yang sobat
ingin kembali untuk memotret tempat tersebut. pastikan sobat mencatat
setiap detil yang penting, seperti pencahayaan, sehingga sobat bisa
kembali ketempat tersebut di waktu yang sama atau pada saat cuaca yang
tepat. Jika sobat tidak ingin membawa buku saku, maka kalian bisa
mengirimkan catatan via email lewat handphone,
5. Jangan mengabaikan subyek yang 'biasa' dalam fotografi
Sobat mungkin tidak melihat sesuatu yang menarik dan layak dipotret di
kamar tamu atau halaman belakang, tetapi setidaknya cobalah melihat
sekeliling dengan sudut pandang yang baru. Sobat mungkin bisa menemukan
spektrum cahaya atau beberapa bunga liar di halaman belakang rumah
kalian, seringkali sebuah obyek sederhana bisa menciptakan foto yang
bagus.
6. Nikmatilah proses belajar fotografi
Hal yang paling menarik mempelajari sebuah hobi seperti fotografi,
adalah tidak ada kata cukup dalam mempelajarinya. Sumber inspirasi
banyak sekali bisa ditemukan disekeliling kalian. Lihatlah semua hal
tersebut menggunakan mata seorang fotografer dan Sobat akan menemukan peluang foto yang tidak kalian sadari sebelumnya.
7. Manfaatkan Sumber online belajar fotografi gratis
Pelajari foto-foto yang dihasilkan oleh fotografer profesional melalui situs seperti flickr, atau website yang berbagi informasi tentang teknik fotografi seperti InFotografi,
disana bisa kalian temukan inspirasi dan tips tentang dunia fotografi.
Jika Sobat tertarik untuk belajar mengenai post-processing dan masih
belum ada anggaran biaya untuk membeli software seperti Adobe Photoshop,
cobalah gunakan software free seperti GIMP
8. Terus melakukan uji coba pada pengaturan kamera
Kamera saku yang Sobat miliki bisa jadi memiliki fitur yang jauh lebih
fleksibel dari yang kalian ketahui sekarang. Bacalah buku petunjuk atau
manual untuk bantuan mengartikan simbol-simbol yang ada dalam pengaturan
kamera. Cobalah memotret satu subyek dengan menggunakan pengaturan yang
berbeda, lihat dan pelajari serta pilihlah hasil mana yang paling
kalian sukai. Ketika me-review ulang foto-foto tersebut pada komputer,
coba lihat EXIF data setiap foto untuk melihat kembali pengaturan kamera
yang kalian gunakan saat memotret.
9. Pelajari aturan-aturan dasar
Seperti yang kita ketahui, banyak sekali informasi tentang dunia
fotografi tersebar secara online di internet. Mulailah dengan beberapa
artikel tentang komposisi. Terbukalah pada pendapat - pendapat dari
fotografer yang lebih berpengalaman mengenai teknik fotografi yang
mereka gunakan. Sobat tentunya harus mengetahui dan memahami aturan
dasar sebelum melanggarnya bukan?
10. Memotretlah secara rutin
Cobalah memotret sesuatu setiap hari, jika Sobat tidak bisa
melakukannya, maka pastikan kalian berlatih secara rutin sehingga Sobat
tidak lupa apa yang telah kalian pelajari sebelumnya. Cara yang paling
baik melakukan ini adalah memberikan pada diri sendiri sebuah tantangan
fotografi setiap minggunya.
11. Jangan takut untuk bereksperimen
Jika Sobat menggunakan kamera digital, lakukan uji coba secara terus
menerus dan kemungkinan besar kalian akan menemukan sesuatu yang sangat
kalian sukai, dan tentunya kalian akan belajar banyak melalui proses
belajar ini.
Tips Fotografi - Kamera
DSLR memungkinkan seseorang untuk mengambil banyak foto-foto sesuai
dengan kreatifitas mereka, tetapi untuk mengerti serta memahami
pengaturan kamera pasti membutuhkan sedikit waktu untuk beradaptasi.
Percaya atau tidak jika sobat ingin sekali segera menghasilkan foto yang
bagus, hal ini mungkin akan membuat frustasi, tetapi bagaimanapun juga,
satu-satunya cara adalah memastikan kamera kalian diatur dengan benar
guna menghasilkan foto-foto seperti yang Sobat inginkan.
Quality Control
Apakah Sobat pernah memperhatikan format file yang kalian gunakan dalam
memotret? Apakah Sobat lebih memilih menggunakan format RAW daripada
JPEG? Foto-foto yang diambil dengan menggunakan format RAW akan memiliki
fleksibilitas lebih ketika melakukan paska produksi atau editing dengan
perangkat lunak seperti Photoshop atau GIMP.
Gunakan ISO
antara 100 sampai 400, dan cobalah untuk mendapatkan sensitifitas
cahaya paling renda. Beberapa kamera digital akan menghasilkan Noise
pada ISO tinggi. Noise biasanya dalam foto terlihat seperti butiran pasir
Ketika membicarakan White Balance,
Sobat bisa membiarkannya otomatis, tetapi jika Sobat telah percaya diri
perihal penggunaanya sesuai dengan kondisi pencahayaan saat memotret
maka silahkan kalian atur lebih detail, seperti ke Tungsten atau Cloudy
Key Control
Aperture dan Shutter Speed
bisa dikatakan sangat krusial. Dampak kombinasi dari Dua pengaturan ini
tidak hanya pada jumlah cahaya yang masuk ke dalam lensa, tetapi juga
pada bagaimana foto kalian akan dihasilkan.
Aperture mengendalikan Depth of Field dengan menentukan area mana saja yang akan terlihat tajam, jika Sobat memilih Depth of Field sempit dengan Foreground tajam dan Background blur, maka Sobat harus menggunakan Aperture lebar (contoh: f/2.8), dan begitu juga sebaliknya.
Aperture mengendalikan Depth of Field dengan menentukan area mana saja yang akan terlihat tajam, jika Sobat memilih Depth of Field sempit dengan Foreground tajam dan Background blur, maka Sobat harus menggunakan Aperture lebar (contoh: f/2.8), dan begitu juga sebaliknya.
Shutter Speed mengontrol apakah obyek gerak terekam 'freeze' atau blur (baca artikel: Bagaimana membuat foto Blur). Semakin lambat Shutter Speed, maka akan ada lebih banyak motion blur yang tercipta.
Pengaturan Mode Exposure yang Tepat
Kamera DSLR memberikan beberapa fitur mode exposure, dari full otomatis
seperti yang ada di kamera saku, sampai ke full manual. Dua mode
semi-otomatis yang paling populer dalam memberikan sisi kreatifitas
adalah Aperture Priority dan Shutter Priority.
Aperture Priority memungkinkan kalian untuk memilih Aperture sesuai
keinginan, dan kamera memilih Shutter Speed yang dibutuhkan secara
otomatis. Pilih Shutter Priority jika kalian sudah mengetahui berapa
kecepatan Shutter yang akan digunakan, dan kamera akan menangani
pemilihan aperture untuk mendapatkan exposure yang pas. Sederhana bukan?
Gunakan Metering yang Tepat
Mode Metering akan tergantung pada kamera serta merk-nya, tetapi ada
tiga macam metering yang umum terdapat pada sebuah kamera DSLR yaitu:
Multi-zone, Centre-Weighted Average dan Spot. Mode Multi-Zone membaca
cahaya dari keseluruhan area. Sangat cocok untuk kebutuhan sehari-hari
dan akurat untuk kebanyakan situasi. Centre-Weighted Average membaca
sebanyak sekitar 70% dari tengah frame, ideal untuk mengambil gambar
Portrait. Metering Spot membaca hanya sebatas area kecil, oleh kerena
itu metering ini sedikit sulit diaplikasikan oleh fotografer pemula.
Pengaturan AF dan Mode Drive
Kamera DSLR menawarkan beberapa mode fokus. Dua pengaturan fokus yang
utama adalah Single-Servo untuk obyek diam, dan Continuous-Servo untuk
obyek gerak. Kebanyakan kamera membolehkan penggunanya untuk menggunakan
fokus secara manual.
Mode Drives memungkinkan kita untuk menentukan apakah kita akan
mengambil foto dengan single frame setiap jepretan atau lebih dari satu
jepretan selama kita menekan tombol Shutter.
Memanfaatkan Layar LCD.
Layar LCD bisa membuat kita memberikan salah penilain exposure jika kita tidak mengatur tingkat kecerahannya secara benar. Biasakan untuk mereview exposure sebuah foto menggunakan histogram atau tone chart. Sebuah grafik histogram yang cenderung memuncak di sisi kiri menandakan foto tersebut under-exposure, memuncak di sebelah kanan menandakan over-exposure.
06.39
Smartvone
Tips Fotografi - Kamera
DSLR memungkinkan seseorang untuk mengambil banyak foto-foto sesuai
dengan kreatifitas mereka, tetapi untuk mengerti serta memahami
pengaturan kamera pasti membutuhkan sedikit waktu untuk beradaptasi.
Percaya atau tidak jika sobat ingin sekali segera menghasilkan foto yang
bagus, hal ini mungkin akan membuat frustasi, tetapi bagaimanapun juga,
satu-satunya cara adalah memastikan kamera kalian diatur dengan benar
guna menghasilkan foto-foto seperti yang Sobat inginkan.
Quality Control
Apakah Sobat pernah memperhatikan format file yang kalian gunakan dalam
memotret? Apakah Sobat lebih memilih menggunakan format RAW daripada
JPEG? Foto-foto yang diambil dengan menggunakan format RAW akan memiliki
fleksibilitas lebih ketika melakukan paska produksi atau editing dengan
perangkat lunak seperti Photoshop atau GIMP.
Gunakan ISO
antara 100 sampai 400, dan cobalah untuk mendapatkan sensitifitas
cahaya paling renda. Beberapa kamera digital akan menghasilkan Noise
pada ISO tinggi. Noise biasanya dalam foto terlihat seperti butiran pasir
Ketika membicarakan White Balance,
Sobat bisa membiarkannya otomatis, tetapi jika Sobat telah percaya diri
perihal penggunaanya sesuai dengan kondisi pencahayaan saat memotret
maka silahkan kalian atur lebih detail, seperti ke Tungsten atau Cloudy
Key Control
Aperture dan Shutter Speed
bisa dikatakan sangat krusial. Dampak kombinasi dari Dua pengaturan ini
tidak hanya pada jumlah cahaya yang masuk ke dalam lensa, tetapi juga
pada bagaimana foto kalian akan dihasilkan.
Aperture mengendalikan Depth of Field dengan menentukan area mana saja yang akan terlihat tajam, jika Sobat memilih Depth of Field sempit dengan Foreground tajam dan Background blur, maka Sobat harus menggunakan Aperture lebar (contoh: f/2.8), dan begitu juga sebaliknya.
Aperture mengendalikan Depth of Field dengan menentukan area mana saja yang akan terlihat tajam, jika Sobat memilih Depth of Field sempit dengan Foreground tajam dan Background blur, maka Sobat harus menggunakan Aperture lebar (contoh: f/2.8), dan begitu juga sebaliknya.
Shutter Speed mengontrol apakah obyek gerak terekam 'freeze' atau blur (baca artikel: Bagaimana membuat foto Blur). Semakin lambat Shutter Speed, maka akan ada lebih banyak motion blur yang tercipta.
Pengaturan Mode Exposure yang Tepat
Kamera DSLR memberikan beberapa fitur mode exposure, dari full otomatis
seperti yang ada di kamera saku, sampai ke full manual. Dua mode
semi-otomatis yang paling populer dalam memberikan sisi kreatifitas
adalah Aperture Priority dan Shutter Priority.
Aperture Priority memungkinkan kalian untuk memilih Aperture sesuai
keinginan, dan kamera memilih Shutter Speed yang dibutuhkan secara
otomatis. Pilih Shutter Priority jika kalian sudah mengetahui berapa
kecepatan Shutter yang akan digunakan, dan kamera akan menangani
pemilihan aperture untuk mendapatkan exposure yang pas. Sederhana bukan?
Gunakan Metering yang Tepat
Mode Metering akan tergantung pada kamera serta merk-nya, tetapi ada
tiga macam metering yang umum terdapat pada sebuah kamera DSLR yaitu:
Multi-zone, Centre-Weighted Average dan Spot. Mode Multi-Zone membaca
cahaya dari keseluruhan area. Sangat cocok untuk kebutuhan sehari-hari
dan akurat untuk kebanyakan situasi. Centre-Weighted Average membaca
sebanyak sekitar 70% dari tengah frame, ideal untuk mengambil gambar
Portrait. Metering Spot membaca hanya sebatas area kecil, oleh kerena
itu metering ini sedikit sulit diaplikasikan oleh fotografer pemula.
Pengaturan AF dan Mode Drive
Kamera DSLR menawarkan beberapa mode fokus. Dua pengaturan fokus yang
utama adalah Single-Servo untuk obyek diam, dan Continuous-Servo untuk
obyek gerak. Kebanyakan kamera membolehkan penggunanya untuk menggunakan
fokus secara manual.
Mode Drives memungkinkan kita untuk menentukan apakah kita akan
mengambil foto dengan single frame setiap jepretan atau lebih dari satu
jepretan selama kita menekan tombol Shutter.
Memanfaatkan Layar LCD.
Layar LCD bisa membuat kita memberikan salah penilain exposure jika kita tidak mengatur tingkat kecerahannya secara benar. Biasakan untuk mereview exposure sebuah foto menggunakan histogram atau tone chart. Sebuah grafik histogram yang cenderung memuncak di sisi kiri menandakan foto tersebut under-exposure, memuncak di sebelah kanan menandakan over-exposure.
Tips Fotografi - Beberapa
minggu yang lalu sebuah foto bunga Lily terpilih menjadi "Photo Of The
Week" InFotografi, mungkin dari situ muncul sebuah pemikiran, bunga
merupakan sebuah subyek foto yang sudah diciptakan dengan keindahan,
bagaimanapun cara memotretnya, bunga selalu bisa mencuri perhatian kita.
Bagaimanapun juga fotografi merupakan sebua media komunikasi visual
yang menyampaikan pemikiran seorang fotografer, menyampaikan pesan serta
cerita dengan sentuhan pengambilan gambar. Artikel ini akan mengulas
dan merangkum tips dan trik bagaimana memotret tentang keindahan bunga
yang sering kita temui di keseharian.
Kuncinya Adalah Persiapan
Membawa semua perangkat fotografi dan mengombinasikan dengan tepat, memilih lensa yang pas,
menata tripod lalu bersiap untuk memotret. Dalam tahap ini berhentilah
sejenak dan cobalah sedikit eksplorasi sebelum menekan tombol shutter.
Tanyakan pada diri sobat beberapa pertanyaan dibawah ini:
- Bagaimana nanti Sobat melakukan Crop-ing, Close-up atau mengambilnya menggunakan wide-angle?
- Apa yang menjadi Focal Point atau Point of Interest? Serangga, Serbuk sari, warna, tekstur, bentuk, dan lain-lain.
- Untuk mendapaktan prespektif yang bagus, angle apa yang akan digunakan?
- Seberapa lebar Depth of Field yang Sobat inginkan?
- Apakah subyek foto mendapatkan cahaya yang cukup?
- Bunga mana yang cocok menjadi spesimen foto kalian?
- Apakah ada benda yang berpotensi mengganggu, baik pada background atau foreground?
- Format apa yang tepat untuk pemotretan? (vertikal atau horisontal)?
Menonjolkan Subyek
Salah satu pertanyaan diatas yang dikatakan perlu untuk dipertimbangkan
adalah 'Apakah ada benda yang berpotensi mengganggu, baik pada
background atau foreground?'. Seperti yang kita ketahui, taman merupakan
tempat yang dipenuhi dengan banyak benda yang berpotensi mengganggu
foto kita. Benda-benda tersebut bisa berupa alat-alat berkebun, pagar,
bunga-bunga lain, tali jemuran, dan lain-lain. Sobat harus benar-benar
mempertimbangkan, apakah akan menyertakan benda-benda tersebut di dalam
foto atau tidak. Pilihan selalu saja ada, tetapi pada kebanyakan kasus,
Sobat mungkin akan ingin menyingkirkan benda-benda itu kecuali mereka
bisa memberi kesan tersendiri di dalam foto kalian. Ada beberapa pilihan
cara yang bisa sobat lakukan untuk menyingkirkan benda-benda tersebut
jika kalian tidak menginginkannya masuk di dalam foto:
- Pindahkan benda-benda tersebut - Beberapa benda yang menganggu bisa dengan mudah dipindahkan sehinga tidak masuk dalam frame kalian.
- Berpindah posisi memotret - Sobat bisa mencari angle lain dan mendapatkan background yang memiliki sedikit distraction.
- Gunakan aperture untuk mendapatkan Depth of Field sempit - Seperti yang pernah kita bahas di artikel sebelumnya tentang aperture, jika sobat memilih aperture lebar (bilangan kecil), maka berarti sobat menurunkan Depth of Field. Dengan melakukan hal ini maka akan membuat elemen di FG dan BG lebih tidak fokus.
- Pindahkan subyek foto - Mungkin beberapa dari kita memang tidak suka untuk mengintervensi lokasi pemotretan, tetapi bahkan fotografer profesional pun kadang memindahkan bunga ke lokasi baru yang jauh dari distraction untuk pemotretan. Sobat bisa meminta tolong seseorang untuk memegangi batang dengan sudut yang berbeda atau bahkan mengambil bunga tersebut dan memotretnya di tempat lain.
Jangan Mengacuhkan Bunga yang layu atau Mati
Terkadang bunga yang mati atau layu bisa menghadirkan nuansa subyek yang
indah, sedangkan bunga yang indah dan terkembang sempurna biasanya
selalu menarik perhatian setiap orang untuk memotretnya dan tidak
memperhatikan bunga layu yang bisa lebih dramatis dalam sebuah foto.
Tentukan Focal Point
Seperti dalam semua jenis dan bidang fotografi, tentunya Sobat harus
berpikir dan menentukan dimana anda akan membawa mata penikmat foto
kalian. Anda bisa meletakkan di tengah-tengah frame dengan menggunakan
aturan Rule of Thirds, tetapi temukan sesuatu dalam frame yang bisa
menarik perhatian mata penikmat foto kalian dan berhati-hatilah mengenai
posisi peletakannya.
Mencoba Abstrak
Terkadang memotret dengan close-up dan memfokuskan pada satu bagian
bunga bisa menciptakan foto yang memiliki 'WOW' faktor serta foto yang
terkesan abstrak. Perhatikan kontras warna, pola, serta tekstur.
Fokus
Fokus yang tajam merupakan hal yang penting dalam semua jenis fotografi,
tetapi dalam fotografi makro, bunga bukanlah merupakan suatu hal yang
krusial dan dengan sedikit penyesuaian akan memberikan dampak implikasi
yang besar ketika memotret dengan depth-of-field sempit. Depth of Field
dalam fotografi makro merupakan permainan ukuran milimeter, jadi berikan
perhatian lebih pada detil fokus terhadap subyek foto kalian.
Identifikasikan Point of Interest yang ingin kalian fokuskan dan
kemudian berusahalah dengan keras untuk mendapatkan fotonya setajam
mungkin. Pada kondisi pemotretan di luar ruangan yang berangin mungkin
akan menjadi tantangan tersendiri, dimana Sobat kemungkinan akan
menghadapi kondisi memotret berulang kali dan berharap keberuntungan
menjadi faktor keberhasilan dalam memotret bunga tersebut. Sobat bisa
meningkatkan derajat keberuntungan itu dengan memotret bunga di
lingkungan yang lebih terkendali seperti membawa bunga ke dalam studio
foto, melindunginya dari angin atau memotret pada saat hari dimana angin
tidak berhembus kencang.
Pencahayaan
Subyek foto tentunya akan memiliki pencahayaan yang bagus tanpa Anda
harus bersusah payah memberikan penerangan tambahan, namun dunia
fotografi makro di luar ruangan seringkali jauh dari harapan kita, dan
tentunya akan butuh penerangan tambahan (cahaya buatan) atau semacam
reflektor. Bereksperimenlah dengan menggunakan flash. Cahaya flash
secara langsung ke subyek akan menyebabkan foto sedikit wash-out, jadi
pertimbangkan untuk menggunakan flash difusser atau memantulkan cahaya
flash ke obyek lain. Cahaya flash yang halus dan tidak mengena subyek
secara langsung biasanya akan terasa lebih alami.
Reflektor bisa menjadi perangkat sederhana dalam memotret keindahan
bunga, karena mereka bisa memberikan cahaya yang halus serta alami
kepada subyek foto kalian. bereksperimenlah menggunakan reflektor dengan
warna yang berbeda dan lihatlah bagaimana dampak yang terjadi pada
hasil foto kalian.
Lensa
Kamera saku - Jika Sobat menggunakan kamera saku dalam memotret
bunga dan tidak memiliki fitur penggantian lensa maka bisa dipastikan
kalian tidak memiliki banyak pilihan. Anda mungkin hanya bisa
menggunakan fitur mode makro (memperbolehkan untuk fokus lebih dekat
lagi dengan subyek dan menggunakan aperture lebar dan Depth of Field
sempit) yang sudah ada pada kamera tersebut. Coba periksa kamera saku
kalian, beberapa kamera saku sudah dilengkapi dengan fitur mode makro.
06.37
Smartvone
Tips Fotografi - Beberapa
minggu yang lalu sebuah foto bunga Lily terpilih menjadi "Photo Of The
Week" InFotografi, mungkin dari situ muncul sebuah pemikiran, bunga
merupakan sebuah subyek foto yang sudah diciptakan dengan keindahan,
bagaimanapun cara memotretnya, bunga selalu bisa mencuri perhatian kita.
Bagaimanapun juga fotografi merupakan sebua media komunikasi visual
yang menyampaikan pemikiran seorang fotografer, menyampaikan pesan serta
cerita dengan sentuhan pengambilan gambar. Artikel ini akan mengulas
dan merangkum tips dan trik bagaimana memotret tentang keindahan bunga
yang sering kita temui di keseharian.
Kuncinya Adalah Persiapan
Membawa semua perangkat fotografi dan mengombinasikan dengan tepat, memilih lensa yang pas,
menata tripod lalu bersiap untuk memotret. Dalam tahap ini berhentilah
sejenak dan cobalah sedikit eksplorasi sebelum menekan tombol shutter.
Tanyakan pada diri sobat beberapa pertanyaan dibawah ini:
- Bagaimana nanti Sobat melakukan Crop-ing, Close-up atau mengambilnya menggunakan wide-angle?
- Apa yang menjadi Focal Point atau Point of Interest? Serangga, Serbuk sari, warna, tekstur, bentuk, dan lain-lain.
- Untuk mendapaktan prespektif yang bagus, angle apa yang akan digunakan?
- Seberapa lebar Depth of Field yang Sobat inginkan?
- Apakah subyek foto mendapatkan cahaya yang cukup?
- Bunga mana yang cocok menjadi spesimen foto kalian?
- Apakah ada benda yang berpotensi mengganggu, baik pada background atau foreground?
- Format apa yang tepat untuk pemotretan? (vertikal atau horisontal)?
Menonjolkan Subyek
Salah satu pertanyaan diatas yang dikatakan perlu untuk dipertimbangkan
adalah 'Apakah ada benda yang berpotensi mengganggu, baik pada
background atau foreground?'. Seperti yang kita ketahui, taman merupakan
tempat yang dipenuhi dengan banyak benda yang berpotensi mengganggu
foto kita. Benda-benda tersebut bisa berupa alat-alat berkebun, pagar,
bunga-bunga lain, tali jemuran, dan lain-lain. Sobat harus benar-benar
mempertimbangkan, apakah akan menyertakan benda-benda tersebut di dalam
foto atau tidak. Pilihan selalu saja ada, tetapi pada kebanyakan kasus,
Sobat mungkin akan ingin menyingkirkan benda-benda itu kecuali mereka
bisa memberi kesan tersendiri di dalam foto kalian. Ada beberapa pilihan
cara yang bisa sobat lakukan untuk menyingkirkan benda-benda tersebut
jika kalian tidak menginginkannya masuk di dalam foto:
- Pindahkan benda-benda tersebut - Beberapa benda yang menganggu bisa dengan mudah dipindahkan sehinga tidak masuk dalam frame kalian.
- Berpindah posisi memotret - Sobat bisa mencari angle lain dan mendapatkan background yang memiliki sedikit distraction.
- Gunakan aperture untuk mendapatkan Depth of Field sempit - Seperti yang pernah kita bahas di artikel sebelumnya tentang aperture, jika sobat memilih aperture lebar (bilangan kecil), maka berarti sobat menurunkan Depth of Field. Dengan melakukan hal ini maka akan membuat elemen di FG dan BG lebih tidak fokus.
- Pindahkan subyek foto - Mungkin beberapa dari kita memang tidak suka untuk mengintervensi lokasi pemotretan, tetapi bahkan fotografer profesional pun kadang memindahkan bunga ke lokasi baru yang jauh dari distraction untuk pemotretan. Sobat bisa meminta tolong seseorang untuk memegangi batang dengan sudut yang berbeda atau bahkan mengambil bunga tersebut dan memotretnya di tempat lain.
Jangan Mengacuhkan Bunga yang layu atau Mati
Terkadang bunga yang mati atau layu bisa menghadirkan nuansa subyek yang
indah, sedangkan bunga yang indah dan terkembang sempurna biasanya
selalu menarik perhatian setiap orang untuk memotretnya dan tidak
memperhatikan bunga layu yang bisa lebih dramatis dalam sebuah foto.
Tentukan Focal Point
Seperti dalam semua jenis dan bidang fotografi, tentunya Sobat harus
berpikir dan menentukan dimana anda akan membawa mata penikmat foto
kalian. Anda bisa meletakkan di tengah-tengah frame dengan menggunakan
aturan Rule of Thirds, tetapi temukan sesuatu dalam frame yang bisa
menarik perhatian mata penikmat foto kalian dan berhati-hatilah mengenai
posisi peletakannya.
Mencoba Abstrak
Terkadang memotret dengan close-up dan memfokuskan pada satu bagian
bunga bisa menciptakan foto yang memiliki 'WOW' faktor serta foto yang
terkesan abstrak. Perhatikan kontras warna, pola, serta tekstur.
Fokus
Fokus yang tajam merupakan hal yang penting dalam semua jenis fotografi,
tetapi dalam fotografi makro, bunga bukanlah merupakan suatu hal yang
krusial dan dengan sedikit penyesuaian akan memberikan dampak implikasi
yang besar ketika memotret dengan depth-of-field sempit. Depth of Field
dalam fotografi makro merupakan permainan ukuran milimeter, jadi berikan
perhatian lebih pada detil fokus terhadap subyek foto kalian.
Identifikasikan Point of Interest yang ingin kalian fokuskan dan
kemudian berusahalah dengan keras untuk mendapatkan fotonya setajam
mungkin. Pada kondisi pemotretan di luar ruangan yang berangin mungkin
akan menjadi tantangan tersendiri, dimana Sobat kemungkinan akan
menghadapi kondisi memotret berulang kali dan berharap keberuntungan
menjadi faktor keberhasilan dalam memotret bunga tersebut. Sobat bisa
meningkatkan derajat keberuntungan itu dengan memotret bunga di
lingkungan yang lebih terkendali seperti membawa bunga ke dalam studio
foto, melindunginya dari angin atau memotret pada saat hari dimana angin
tidak berhembus kencang.
Pencahayaan
Subyek foto tentunya akan memiliki pencahayaan yang bagus tanpa Anda
harus bersusah payah memberikan penerangan tambahan, namun dunia
fotografi makro di luar ruangan seringkali jauh dari harapan kita, dan
tentunya akan butuh penerangan tambahan (cahaya buatan) atau semacam
reflektor. Bereksperimenlah dengan menggunakan flash. Cahaya flash
secara langsung ke subyek akan menyebabkan foto sedikit wash-out, jadi
pertimbangkan untuk menggunakan flash difusser atau memantulkan cahaya
flash ke obyek lain. Cahaya flash yang halus dan tidak mengena subyek
secara langsung biasanya akan terasa lebih alami.
Reflektor bisa menjadi perangkat sederhana dalam memotret keindahan
bunga, karena mereka bisa memberikan cahaya yang halus serta alami
kepada subyek foto kalian. bereksperimenlah menggunakan reflektor dengan
warna yang berbeda dan lihatlah bagaimana dampak yang terjadi pada
hasil foto kalian.
Lensa
Kamera saku - Jika Sobat menggunakan kamera saku dalam memotret
bunga dan tidak memiliki fitur penggantian lensa maka bisa dipastikan
kalian tidak memiliki banyak pilihan. Anda mungkin hanya bisa
menggunakan fitur mode makro (memperbolehkan untuk fokus lebih dekat
lagi dengan subyek dan menggunakan aperture lebar dan Depth of Field
sempit) yang sudah ada pada kamera tersebut. Coba periksa kamera saku
kalian, beberapa kamera saku sudah dilengkapi dengan fitur mode makro.
Teknik Fotografi -
Lensa merupakan salah satu bagian paling penting pada peralatan kamera
yang Sobat miliki. Sebuah lensa yang baik dan terawat pastinya akan
bertahan lama dan umurnya akan melebihi bodi kamera, itu sebabnya
beberapa pendapat menghimbau agar berinvestasilah pada lensa, dan bukan
pada bodi kamera. Bahkan Sobat pasti telah banyak menemui
artikel-artikel yang menulis tentang lensa mana yang harus Sobat beli di dalam dunia fotografi.
Seperti kebanyakan fotografer, ketika Sobat pertama kali membeli kamera yang 'sesungguhnya' (kamera yang bisa diganti lensa) tentunya akan mendapatkan satu lensa kit bawaan (Lensa Canon EF-S 18-55mm IS II). Kebanyakan lensa kit tidaklah mahal. Hal ini bisa dimengerti karena produsen juga mempertimbangkan harga sebuah set kamera yang beredar di pasaran, bagaimana produk mereka bisa bersaing dengan produk-produk lain dengan mem-bundling sebuah kamera yang jauh dari kata mahal. Sobat pasti memulai dunia fotografi dengan menggunakan lensa kit, dan tentunya sobat bisa membeli lensa yang memiliki kualitas yang lebih bagus ketika Sobat sudah berkembang dalam dunia fotografi kalian.
Jika Sobat hanya memiliki sebuah lensa kit, apakah menurut kalian berarti harus belanja lensa yang lebih bagus saat ini juga?
menurut kami tidak harus! Tak peduli apa yang dikatakan oleh orang
lain, atau seberapa besar keinginan Sobat terhadap lensa-lensa mahal
tersebut! Lensa kit yang Sobat miliki adalah perangkat yang tepat untuk
memulai menciptakan style fotografi kalian. Jika Sobat dalam kondisi
keuangan yang tidak memungkinkan membeli lensa lain, atau Sobat masih
belum tahu lensa apa yang akan dibeli, jangan bingung. Kalian akan
terkejut atas apa yang bisa dilakukan serta dihasilkan oleh lensa kit,
tentunya setelah Sobat tahu dan mengerti bagaimana memaksimalkan lensa
tersebut.
Tidak percaya pernyataan diatas? coba lihat foto-foto para fotografer infotografi.com di halaman google+ ini. Foto-foto tersebut diambil dengan menggunakan lensa kit nikon Nikon 18-55mm f/3.5 - 5.6G dan kamera D70s. Hal yang sama juga dialami banyak fotografer, pada saat awal menekuni dunia fotografi dan tidak tahu lensa apa yang harus dibeli, mereka memutuskan untuk tetap memakai lensa kit mereka dan mencoba meng-eksplorasi apa yang bisa dilakukan oleh lensa tersebut, dan Sobat bisa melihat sendiri, tidak mengecewakan bukan?
Memang Sobat akan segera menyadari bahwa lensa kit bukan lah lensa yang
bagus, terutama untuk sebuah publikasi foto di khalayak ramai, tetapi
poin yang ingin kami sampaikan adalah, lensa kit cukup bagus untuk
memulai dunia fotografi kalian.
Memaksimalkan Lensa Kit
Jadi, bagaimana kalian menghasilkan foto terbaik dari lensa kit yang
Sobat miliki? Pendekatan paling bagus adalah dengan membangun pola pikir
bahwa Sobat memiliki dua lensa dalam satu lensa kit tersebut. Jika
Sobat memiliki lensa kit tipikal seperti 18-55mm, maka berlakukan lensa
tersebut sebagai lensa 18mm dan 55mm yang tergabung menjadi Satu. ukuran
focal lenth 18mm bisa dikatakan adalah moderat wide-angle yang bagus
untuk foto landscape, arsitektur, serta environment. 55mm adalah lensa
tele pendek yang ideal untuk mengkompresi prespektif dan mengambil foto
potret atau detail
Pernyataan diatas tidak berarti lalu Sobat tidak bisa menggunakan focal
length yang beradara diantara 18 dan 55mm, ada banyak kesempatan dimana
kalian harus menggunakan ukuran focal length tersebut, tetapi dengan
tetap bertahan pada dua ukuran tersebut (focal length terpendek dan
terpanjang) kalian akan belajar bagaimana perilaku ukuran focal length
tersebut. Lensa merupakan 'mata' dari sistem kamera, dan foto-foto
kalian akan mengalami peningkatan seiring sobat belajar tentang karakter
dari setiap focal length.
Beberapa lensa kit juga memiliki fitur lain yang sangat berguna. Pada
Canon sering disebut dengan Image Stabiliser (IS) dan di Nikon adalah
Vibration Reduction (VR) Namun beberapa kamera sudah memiliki fitur ini
di dalam bodi kamera itu sendiri. Fitur Image Stabiliser memungkinkan
Sobat untuk memotret pada shutter-speed yang rendah,
secara teori Anda akan bisa memotret tanpa tripod atau penyanggah pada
focal length 18mm dan menghasilkan foto tanpa getaran pada shutter-speed
1/4 atau bahkan 1/2 detik. Fitur ini akan sangat bermanfaat pada saat
memotret di low-light atau cahaya minim dan tentunya akan sangat
memudahkan memotret di siang dan malam hari.
Peran lensa kit sebagai wide-Angle
Foto diatas diambil dengan menggunakan lensa kit yang berpersan sebagai lensa wide.
Peran Lensa Kit Sebagai Tele Pendek
Foto-foto tersbut di ambil pada focal length 55mm,
Kekurangan Lensa Kit
Lensa kit yang Sobat miliki mungkin merupakan lensa yang lebih baik
daripada yang Sobat pikir, tetapi masih tetap bukan lensa yang bagus dan
pastinya memiliki beberapa kekurangan serta kelemahan. Setelah beberapa
lama Sobat menggunakan lensa kit, pastinya akan menemui beberapa
keterbatasan. bukan hal yang mutlak buruk, ini pertanda bahwa Sobat
telah pada tahap dimana Anda memang butuh lensa lain untuk menghasilkan
foto yang lebih baik pula. Berikut adalah beberapa keterbatasan dari
lensa kit:
Focal Length: Sobat akan merasa bahwa 18mm pada lensa kit kalian
tidak terasa cukup lebar, tentunya Sobat butuh focal length yang lebih
pendek sehingga bisa menghasilkan foto yang lebih dramatis. Pada kondisi
ini, Kalian bisa mulai mempertimbangkan untuk membeli lensa wide-angel
baru.
Dilain sisi, jika Sobat merasa focal length 55mm tidak memberikan jarak
yang kalian inginkan pada subyek foto, maka Sobat memang membutuhkan
sebuah lensa telephoto. Biasanya akan kalian alami jika sobat suka
memotret wildlife atau sport.
Autofocus: Autofocus pada lensa kit cenderung lambat dan sedikir
berisik dibandingkan lensa-lensa yang lebih mahal, jika performa dari
autofocus lensa kit menghambat kalian, mungkin sudah waktunya melakukan
upgrade.
Aperture: Lensa kit merupakan lensa yang 'lambat'. Lensa ini
tidak memiliki aperture maksimal yang lebar. Alasan sebenarnya sih
sederhana: Semakin lebar aperture
maksimal maka semakin besar pula bodi lensa, dan ini akan menyebabkan
lebih banyak lagi kebutuhan lensa, dan hal itu berarti juga memperbesar
ongkos produksi. Lensa kit kebanyakan memiliki lebar maksimal yang
terbilang kecil untuk menekan harga dipasaran.
Aperture maksimal pada focal length 55mm di kebanyakan lensa kit adalah
f5.6, jika dirasa kurang lebar, Sobat bisa membeli sebuah lensa zoom
yang meng-kover focal length yang sama dengan maksimum aperture f4 atau
f2.8 atau bisa juga lensa prime / fix 50mm dengan aperture maksimal f1.8
atau lebih. Aperture yang lebih lebar pada lensa ini benar-benar akan
membantu sobat untuk memotret dalam kondisi pencahayaan yang rendah atau
berkreasi dengan depth-of-field yang sempit.
06.36
Smartvone
Teknik Fotografi -
Lensa merupakan salah satu bagian paling penting pada peralatan kamera
yang Sobat miliki. Sebuah lensa yang baik dan terawat pastinya akan
bertahan lama dan umurnya akan melebihi bodi kamera, itu sebabnya
beberapa pendapat menghimbau agar berinvestasilah pada lensa, dan bukan
pada bodi kamera. Bahkan Sobat pasti telah banyak menemui
artikel-artikel yang menulis tentang lensa mana yang harus Sobat beli di dalam dunia fotografi.
Seperti kebanyakan fotografer, ketika Sobat pertama kali membeli kamera yang 'sesungguhnya' (kamera yang bisa diganti lensa) tentunya akan mendapatkan satu lensa kit bawaan (Lensa Canon EF-S 18-55mm IS II). Kebanyakan lensa kit tidaklah mahal. Hal ini bisa dimengerti karena produsen juga mempertimbangkan harga sebuah set kamera yang beredar di pasaran, bagaimana produk mereka bisa bersaing dengan produk-produk lain dengan mem-bundling sebuah kamera yang jauh dari kata mahal. Sobat pasti memulai dunia fotografi dengan menggunakan lensa kit, dan tentunya sobat bisa membeli lensa yang memiliki kualitas yang lebih bagus ketika Sobat sudah berkembang dalam dunia fotografi kalian.
Jika Sobat hanya memiliki sebuah lensa kit, apakah menurut kalian berarti harus belanja lensa yang lebih bagus saat ini juga?
menurut kami tidak harus! Tak peduli apa yang dikatakan oleh orang
lain, atau seberapa besar keinginan Sobat terhadap lensa-lensa mahal
tersebut! Lensa kit yang Sobat miliki adalah perangkat yang tepat untuk
memulai menciptakan style fotografi kalian. Jika Sobat dalam kondisi
keuangan yang tidak memungkinkan membeli lensa lain, atau Sobat masih
belum tahu lensa apa yang akan dibeli, jangan bingung. Kalian akan
terkejut atas apa yang bisa dilakukan serta dihasilkan oleh lensa kit,
tentunya setelah Sobat tahu dan mengerti bagaimana memaksimalkan lensa
tersebut.
Tidak percaya pernyataan diatas? coba lihat foto-foto para fotografer infotografi.com di halaman google+ ini. Foto-foto tersebut diambil dengan menggunakan lensa kit nikon Nikon 18-55mm f/3.5 - 5.6G dan kamera D70s. Hal yang sama juga dialami banyak fotografer, pada saat awal menekuni dunia fotografi dan tidak tahu lensa apa yang harus dibeli, mereka memutuskan untuk tetap memakai lensa kit mereka dan mencoba meng-eksplorasi apa yang bisa dilakukan oleh lensa tersebut, dan Sobat bisa melihat sendiri, tidak mengecewakan bukan?
Memang Sobat akan segera menyadari bahwa lensa kit bukan lah lensa yang
bagus, terutama untuk sebuah publikasi foto di khalayak ramai, tetapi
poin yang ingin kami sampaikan adalah, lensa kit cukup bagus untuk
memulai dunia fotografi kalian.
Memaksimalkan Lensa Kit
Jadi, bagaimana kalian menghasilkan foto terbaik dari lensa kit yang
Sobat miliki? Pendekatan paling bagus adalah dengan membangun pola pikir
bahwa Sobat memiliki dua lensa dalam satu lensa kit tersebut. Jika
Sobat memiliki lensa kit tipikal seperti 18-55mm, maka berlakukan lensa
tersebut sebagai lensa 18mm dan 55mm yang tergabung menjadi Satu. ukuran
focal lenth 18mm bisa dikatakan adalah moderat wide-angle yang bagus
untuk foto landscape, arsitektur, serta environment. 55mm adalah lensa
tele pendek yang ideal untuk mengkompresi prespektif dan mengambil foto
potret atau detail
Pernyataan diatas tidak berarti lalu Sobat tidak bisa menggunakan focal
length yang beradara diantara 18 dan 55mm, ada banyak kesempatan dimana
kalian harus menggunakan ukuran focal length tersebut, tetapi dengan
tetap bertahan pada dua ukuran tersebut (focal length terpendek dan
terpanjang) kalian akan belajar bagaimana perilaku ukuran focal length
tersebut. Lensa merupakan 'mata' dari sistem kamera, dan foto-foto
kalian akan mengalami peningkatan seiring sobat belajar tentang karakter
dari setiap focal length.
Beberapa lensa kit juga memiliki fitur lain yang sangat berguna. Pada
Canon sering disebut dengan Image Stabiliser (IS) dan di Nikon adalah
Vibration Reduction (VR) Namun beberapa kamera sudah memiliki fitur ini
di dalam bodi kamera itu sendiri. Fitur Image Stabiliser memungkinkan
Sobat untuk memotret pada shutter-speed yang rendah,
secara teori Anda akan bisa memotret tanpa tripod atau penyanggah pada
focal length 18mm dan menghasilkan foto tanpa getaran pada shutter-speed
1/4 atau bahkan 1/2 detik. Fitur ini akan sangat bermanfaat pada saat
memotret di low-light atau cahaya minim dan tentunya akan sangat
memudahkan memotret di siang dan malam hari.
Peran lensa kit sebagai wide-Angle
Foto diatas diambil dengan menggunakan lensa kit yang berpersan sebagai lensa wide.
Peran Lensa Kit Sebagai Tele Pendek
Foto-foto tersbut di ambil pada focal length 55mm,
Kekurangan Lensa Kit
Lensa kit yang Sobat miliki mungkin merupakan lensa yang lebih baik
daripada yang Sobat pikir, tetapi masih tetap bukan lensa yang bagus dan
pastinya memiliki beberapa kekurangan serta kelemahan. Setelah beberapa
lama Sobat menggunakan lensa kit, pastinya akan menemui beberapa
keterbatasan. bukan hal yang mutlak buruk, ini pertanda bahwa Sobat
telah pada tahap dimana Anda memang butuh lensa lain untuk menghasilkan
foto yang lebih baik pula. Berikut adalah beberapa keterbatasan dari
lensa kit:
Focal Length: Sobat akan merasa bahwa 18mm pada lensa kit kalian
tidak terasa cukup lebar, tentunya Sobat butuh focal length yang lebih
pendek sehingga bisa menghasilkan foto yang lebih dramatis. Pada kondisi
ini, Kalian bisa mulai mempertimbangkan untuk membeli lensa wide-angel
baru.
Dilain sisi, jika Sobat merasa focal length 55mm tidak memberikan jarak
yang kalian inginkan pada subyek foto, maka Sobat memang membutuhkan
sebuah lensa telephoto. Biasanya akan kalian alami jika sobat suka
memotret wildlife atau sport.
Autofocus: Autofocus pada lensa kit cenderung lambat dan sedikir
berisik dibandingkan lensa-lensa yang lebih mahal, jika performa dari
autofocus lensa kit menghambat kalian, mungkin sudah waktunya melakukan
upgrade.
Aperture: Lensa kit merupakan lensa yang 'lambat'. Lensa ini
tidak memiliki aperture maksimal yang lebar. Alasan sebenarnya sih
sederhana: Semakin lebar aperture
maksimal maka semakin besar pula bodi lensa, dan ini akan menyebabkan
lebih banyak lagi kebutuhan lensa, dan hal itu berarti juga memperbesar
ongkos produksi. Lensa kit kebanyakan memiliki lebar maksimal yang
terbilang kecil untuk menekan harga dipasaran.
Aperture maksimal pada focal length 55mm di kebanyakan lensa kit adalah
f5.6, jika dirasa kurang lebar, Sobat bisa membeli sebuah lensa zoom
yang meng-kover focal length yang sama dengan maksimum aperture f4 atau
f2.8 atau bisa juga lensa prime / fix 50mm dengan aperture maksimal f1.8
atau lebih. Aperture yang lebih lebar pada lensa ini benar-benar akan
membantu sobat untuk memotret dalam kondisi pencahayaan yang rendah atau
berkreasi dengan depth-of-field yang sempit.
Dunia Fotografi - Pada artikel kami yang lalu telah membahas tentang tipe lensa DSLR yang ada di pasaran, dan itu bisa menjadi permulaan untuk menjawab pertanyaan berikut: Lensa mana yang harus Saya beli?
Dalam artikel kali ini InFotografi akan membahas beberapa faktor
sebagai pertimbangan ketika akan membeli Lensa DSLR. Setiap fitur di
bawah ini akan berbeda di setiap lensa.
Kecepatan Lensa
Kecepatan lensa bisa jadi merupakan pokok bahasan ketika Sobat mencari
sebuah lensa baru. Kecepatan atau seberapa cepat sebuah lensa sebenarnya
berhubungan erat dengan Aperture maksimal yang dimiliki oleh lensa
tersebut. Aperture merupakan ukuran bukaan lensa ketika tombol shutter
ditekan (atau seberapa banyak cahaya masuk ke dalam kamera). Aperture
dilambangkan dengan F (f-stop).
Sobat bisa membaca artikel kami tentang aperture di: Mengenal Aperture dalam Fotografi.
Semakin kecil bilangan maka semakin besar lubang, dan akan ada lebih
banyak cahaya yang masuk dalam satu waktu. Hal ini berarti Shutter Speed menjadi lebih cepat, dengan alasan inilah mengapa muncul istilah 'cepat' atau 'lebih cepat'
Besarnya Aperture maksimal lensa bisa membantu Sobat dalam beberapa hal antara lain:
- Lensa "cepat" dengan aperture maksimal f/1.4 memungkinkan kalian memotret ditempat yang relatif lebih gelap dibandingkan dengan lensa yang memiliki aperture maksimal f/4 atau f/5.6. Hal ini tidak membuat lensa yang lebih lambat menjadi jelek, tapi layak untuk diketahui.
- Lensa yang "lebih cepat" memungkinkan kalian untuk mengambil obyek gerak dan memotretnya tanpa mendapatkan motion blur
- Lensa "cepat" memungkinkan kalian untuk mendapatkan Depth of Field yang lebih tipis/sempit. Ini berarti ketika kalian memfokuskan pada subyek yang ada di foreground maka background akan menjadi blur atau tidak fokus. Memiliki lensa 'cepat' tentu saja berarti ada kemungkinan fokus menjadi sedikit lebih 'tricky', mengingat Depth of Field yang digunakan sangat tipis/sempit. Sebagai contoh ketika memotret portrait sebuah wajah dengan Aperture f/1.4 dan memfokuskannya pada mata, maka kemungkinan besar kalian akan mendapati hidung sedikit tidak terfokus.
- Lensa 'cepat' biasanya cenderung lebih mahal dibandingkan dengan lensa lain yang lebih lambat.
- Lensa yang lebih "cepat" akan membantu dalam hal flash photography dalam hal merekeam atau mengambil ambient light
Sebagai referensi, kecepatan lensa
dengan aperture f/4 biasanya bagus untuk tujuan pemotretan general
dengan kondisi pencahayaan yang bagus. f/5.6 membutuhkan pencahayaan
yang bagus atau fitur image stabilization (IS/VR), jika Sobat memotret indoor tanpa flash,
maka setidaknya gunakan lensa dengan f/2.8, dan jika Sobat memotret
sport indoor maka setidaknya gunakan f/2.0 atau bahkan lebih 'cepat'
dari itu.
Focal Length
Focal length merupakan panjang dari lensa yang sobat gunakan (satuan mm
merupakan satuan pengukuran focal length dari sebuah lensa). Pengukuran
ini adalah jarak antar optik ditengah-tengah lensa ke focal point pada
sensor kamera. Apa yang harus Sobat tahu adalah bahwa focal length dari
sebuah lensa menginformasikan pada kalian pada saat memotret berapa
besar subyek tersebut akan diperbesar. Focal Length juga
menginformasikan angle of view yang kalian dapat.
Jarak Fokus
Ini merupakan pengukuran antara bagian akhir lensa dengan titik terdekat
kemampuan fokus. Hal ini berguna sekali ketika dalam pemotretan makro
atau close-up photography, mengingat jenis fotografi ini membutuhkan
jarak yang sangat dekat dengan obyek foto.
Image Stabilization
Kebanyakan lensa DSLR sekarang ini sudah dilengkapi dengan fitur image
stabilization (pada canon dikenal dengan IS, dan pada lensa Nikon
dikenal dengan VR). Fitur ini berguna untuk meminimalkan getaran atau
guncangan kamera (Camera Shake).
Camera Shake adalah gerakan yang terjadi pada saat shutter terbuka.
Kejadian ini memiliki dampak lebih besar terhadap hasil foto ketika kita
menggunakan slow speed, tidak menggunakan tripod dan waktu menggunakan lensa dengan focal length yang lebih panjang.
Setiap lensa dan kemera memiliki tipe IS yang berbeda, tetapi kebanyakan
lensa DSLR yang memiliki fitur ini berisi sensor gyro yang mampu
mengoreksi setiap getaran kamera. Kami juga tidak begitu memahami
mekanisme IS ini tetapi yang pasti semua lensa Canon atau Nikon yang
memiliki fitur ini memungkinkan kita untuk memotret dengan hanya
memegang kamera (tanpa tripod) dan dengan shutter speed lebih lambat.
Memang IS membantu fotografer dalam mengurangi getaran kamera pada saat
tingkat cahaya rendah, tetapi tetap saja tidak membekukan (freeze) obyek
yang bergerak. Pada dasarnya IS memudahkan kita memotret pada shutter
speed yang lebih rendah dimana aperture kamera terbuka sedikit lebih
lama, tetapi jika subyek foto kalian bergerak berarti akan mengakibatkan
lebih banyak blur.
Fitur IS berarti biaya tambahan pada sebuah lensa, jadi Sobat butuh
pertimbangan apakah aktifitas pemotretan dengan lensa tersebut
membutuhkan fitur ini atau tidak. contoh: apakah Sobat sering memotret
pada kondisi cahaya rendah dnegan menggunakan focal length yang panjang
tanpa tripod?
Bahan dan Kualitas Lensa
Lensa memiliki banyak variasi dalam segi kualitas bahan dan
konstruksinya. Sobat bisa membedakan lensa tersebut dengan memegang Dua
lensa yang berbeda dan rasakan bobotnya. Sebagai contoh pada lensa Canon
50mm (f/1.4 dan f/1.8), ada perbedaan yang mencolok pada dua lensa
tersebut berkaitan dengan berat dan bahan yang digunakan. Lensa 50mm
f/1.8 memiliki bahan yang dominan dengan plastik dibandingkan lensa 50mm
f/1.4.
Produsen lensa kebanyaka memiliki tingkatan lensa yang berbeda. Sebagai
contoh pada tingkatan Canon ada seri yang disebut dengan lensa
'L-Series'. Sobat bisa dengan mudah mengenalinya dari cincin merah yang
melingkar di badan lensa. Lensa L-Series ini memang didesain dengan
kualitas mewah dan diperuntukkan bagi profesional, dan menggunakan
elemen optik serta kaca yang berkualitas tinggi. Lensa ini umumnya
berat, cukup 'cepat', fokus yang cepat dan bisa menghasilkan foto-foto
yang luar biasa.
Ulasan diatas bukan berarti bahwa lensa ini sempurna bagi setiap orang.
pertimbangan tentang anggaran bagi seorang fotografer juga berperan dan
percayalah banyak lensa-lensa lain yang bisa menghasilkan foto yang
bagus.
Biaya (Budget)
Pertimbangan dalam membeli lensa ketika akan melakukan upgrade adalah
biaya. Kebanyakan orang memang setuju bahwa "Kita mendapatkan apa yang
kita bayar", dan kami lebih memilih mengupgrade lensa dibandingkan
dengan menggangi body kamera (tergantung kondisi). Sedikit waspada
dengan 'lensa kit'
bawaan kamera kalian. Pada banyak kondisi lensa tersebut memang bagus,
tetapi menurut kami akan lebih baik jika kita membeli hanya bodi kamera
dan kemudian memilih lensa yang lebih baik dari kit.
Merk
banyak sekali argumen seputar penggunaan lensa bahwa untuk menghasilkan foto-foto bagus kita harus tetap menggunakan lensa dengan merk yang sama dengan kamera, dibandingkan dengan menggunakan lensa yang lebih murah seperti Sigma, Thamron dan lain-lain. menurut kami untuk pertama kali cobaah mencari lensa yang semerek dan jika kalian tidak menemukannya maka cobalah lensa Third Party. Pengalaman membuktikan bahwa semua produsen atau merk lensa memiliki lensa yang bagus dan jelek yang beredar di pasaran. Lakukan riset pada lensa-lensa tersebut sebelum membeli. Ada banyak website serta forum yang memberikan review serta perbandingan.
06.34
Smartvone
Dunia Fotografi - Pada artikel kami yang lalu telah membahas tentang tipe lensa DSLR yang ada di pasaran, dan itu bisa menjadi permulaan untuk menjawab pertanyaan berikut: Lensa mana yang harus Saya beli?
Dalam artikel kali ini InFotografi akan membahas beberapa faktor
sebagai pertimbangan ketika akan membeli Lensa DSLR. Setiap fitur di
bawah ini akan berbeda di setiap lensa.
Kecepatan Lensa
Kecepatan lensa bisa jadi merupakan pokok bahasan ketika Sobat mencari
sebuah lensa baru. Kecepatan atau seberapa cepat sebuah lensa sebenarnya
berhubungan erat dengan Aperture maksimal yang dimiliki oleh lensa
tersebut. Aperture merupakan ukuran bukaan lensa ketika tombol shutter
ditekan (atau seberapa banyak cahaya masuk ke dalam kamera). Aperture
dilambangkan dengan F (f-stop).
Sobat bisa membaca artikel kami tentang aperture di: Mengenal Aperture dalam Fotografi.
Semakin kecil bilangan maka semakin besar lubang, dan akan ada lebih
banyak cahaya yang masuk dalam satu waktu. Hal ini berarti Shutter Speed menjadi lebih cepat, dengan alasan inilah mengapa muncul istilah 'cepat' atau 'lebih cepat'
Besarnya Aperture maksimal lensa bisa membantu Sobat dalam beberapa hal antara lain:
- Lensa "cepat" dengan aperture maksimal f/1.4 memungkinkan kalian memotret ditempat yang relatif lebih gelap dibandingkan dengan lensa yang memiliki aperture maksimal f/4 atau f/5.6. Hal ini tidak membuat lensa yang lebih lambat menjadi jelek, tapi layak untuk diketahui.
- Lensa yang "lebih cepat" memungkinkan kalian untuk mengambil obyek gerak dan memotretnya tanpa mendapatkan motion blur
- Lensa "cepat" memungkinkan kalian untuk mendapatkan Depth of Field yang lebih tipis/sempit. Ini berarti ketika kalian memfokuskan pada subyek yang ada di foreground maka background akan menjadi blur atau tidak fokus. Memiliki lensa 'cepat' tentu saja berarti ada kemungkinan fokus menjadi sedikit lebih 'tricky', mengingat Depth of Field yang digunakan sangat tipis/sempit. Sebagai contoh ketika memotret portrait sebuah wajah dengan Aperture f/1.4 dan memfokuskannya pada mata, maka kemungkinan besar kalian akan mendapati hidung sedikit tidak terfokus.
- Lensa 'cepat' biasanya cenderung lebih mahal dibandingkan dengan lensa lain yang lebih lambat.
- Lensa yang lebih "cepat" akan membantu dalam hal flash photography dalam hal merekeam atau mengambil ambient light
Sebagai referensi, kecepatan lensa
dengan aperture f/4 biasanya bagus untuk tujuan pemotretan general
dengan kondisi pencahayaan yang bagus. f/5.6 membutuhkan pencahayaan
yang bagus atau fitur image stabilization (IS/VR), jika Sobat memotret indoor tanpa flash,
maka setidaknya gunakan lensa dengan f/2.8, dan jika Sobat memotret
sport indoor maka setidaknya gunakan f/2.0 atau bahkan lebih 'cepat'
dari itu.
Focal Length
Focal length merupakan panjang dari lensa yang sobat gunakan (satuan mm
merupakan satuan pengukuran focal length dari sebuah lensa). Pengukuran
ini adalah jarak antar optik ditengah-tengah lensa ke focal point pada
sensor kamera. Apa yang harus Sobat tahu adalah bahwa focal length dari
sebuah lensa menginformasikan pada kalian pada saat memotret berapa
besar subyek tersebut akan diperbesar. Focal Length juga
menginformasikan angle of view yang kalian dapat.
Jarak Fokus
Ini merupakan pengukuran antara bagian akhir lensa dengan titik terdekat
kemampuan fokus. Hal ini berguna sekali ketika dalam pemotretan makro
atau close-up photography, mengingat jenis fotografi ini membutuhkan
jarak yang sangat dekat dengan obyek foto.
Image Stabilization
Kebanyakan lensa DSLR sekarang ini sudah dilengkapi dengan fitur image
stabilization (pada canon dikenal dengan IS, dan pada lensa Nikon
dikenal dengan VR). Fitur ini berguna untuk meminimalkan getaran atau
guncangan kamera (Camera Shake).
Camera Shake adalah gerakan yang terjadi pada saat shutter terbuka.
Kejadian ini memiliki dampak lebih besar terhadap hasil foto ketika kita
menggunakan slow speed, tidak menggunakan tripod dan waktu menggunakan lensa dengan focal length yang lebih panjang.
Setiap lensa dan kemera memiliki tipe IS yang berbeda, tetapi kebanyakan
lensa DSLR yang memiliki fitur ini berisi sensor gyro yang mampu
mengoreksi setiap getaran kamera. Kami juga tidak begitu memahami
mekanisme IS ini tetapi yang pasti semua lensa Canon atau Nikon yang
memiliki fitur ini memungkinkan kita untuk memotret dengan hanya
memegang kamera (tanpa tripod) dan dengan shutter speed lebih lambat.
Memang IS membantu fotografer dalam mengurangi getaran kamera pada saat
tingkat cahaya rendah, tetapi tetap saja tidak membekukan (freeze) obyek
yang bergerak. Pada dasarnya IS memudahkan kita memotret pada shutter
speed yang lebih rendah dimana aperture kamera terbuka sedikit lebih
lama, tetapi jika subyek foto kalian bergerak berarti akan mengakibatkan
lebih banyak blur.
Fitur IS berarti biaya tambahan pada sebuah lensa, jadi Sobat butuh
pertimbangan apakah aktifitas pemotretan dengan lensa tersebut
membutuhkan fitur ini atau tidak. contoh: apakah Sobat sering memotret
pada kondisi cahaya rendah dnegan menggunakan focal length yang panjang
tanpa tripod?
Bahan dan Kualitas Lensa
Lensa memiliki banyak variasi dalam segi kualitas bahan dan
konstruksinya. Sobat bisa membedakan lensa tersebut dengan memegang Dua
lensa yang berbeda dan rasakan bobotnya. Sebagai contoh pada lensa Canon
50mm (f/1.4 dan f/1.8), ada perbedaan yang mencolok pada dua lensa
tersebut berkaitan dengan berat dan bahan yang digunakan. Lensa 50mm
f/1.8 memiliki bahan yang dominan dengan plastik dibandingkan lensa 50mm
f/1.4.
Produsen lensa kebanyaka memiliki tingkatan lensa yang berbeda. Sebagai
contoh pada tingkatan Canon ada seri yang disebut dengan lensa
'L-Series'. Sobat bisa dengan mudah mengenalinya dari cincin merah yang
melingkar di badan lensa. Lensa L-Series ini memang didesain dengan
kualitas mewah dan diperuntukkan bagi profesional, dan menggunakan
elemen optik serta kaca yang berkualitas tinggi. Lensa ini umumnya
berat, cukup 'cepat', fokus yang cepat dan bisa menghasilkan foto-foto
yang luar biasa.
Ulasan diatas bukan berarti bahwa lensa ini sempurna bagi setiap orang.
pertimbangan tentang anggaran bagi seorang fotografer juga berperan dan
percayalah banyak lensa-lensa lain yang bisa menghasilkan foto yang
bagus.
Biaya (Budget)
Pertimbangan dalam membeli lensa ketika akan melakukan upgrade adalah
biaya. Kebanyakan orang memang setuju bahwa "Kita mendapatkan apa yang
kita bayar", dan kami lebih memilih mengupgrade lensa dibandingkan
dengan menggangi body kamera (tergantung kondisi). Sedikit waspada
dengan 'lensa kit'
bawaan kamera kalian. Pada banyak kondisi lensa tersebut memang bagus,
tetapi menurut kami akan lebih baik jika kita membeli hanya bodi kamera
dan kemudian memilih lensa yang lebih baik dari kit.
Merk
banyak sekali argumen seputar penggunaan lensa bahwa untuk menghasilkan foto-foto bagus kita harus tetap menggunakan lensa dengan merk yang sama dengan kamera, dibandingkan dengan menggunakan lensa yang lebih murah seperti Sigma, Thamron dan lain-lain. menurut kami untuk pertama kali cobaah mencari lensa yang semerek dan jika kalian tidak menemukannya maka cobalah lensa Third Party. Pengalaman membuktikan bahwa semua produsen atau merk lensa memiliki lensa yang bagus dan jelek yang beredar di pasaran. Lakukan riset pada lensa-lensa tersebut sebelum membeli. Ada banyak website serta forum yang memberikan review serta perbandingan.
Teknik Fotografi - Ketika pertama kali website serta akun Twitter
ini hadir buat Sobat sekalian, ada banyak sekali pertanyaan tentang
"Kamera apa yang harus saya beli?" dan pertanyaan tersebut banyak sekali
diajukan oleh teman-teman yang baru mulai belajar fotografi dan sedang
mengumpulkan informasi peralatan yang tepat bagi mereka untuk dibeli.
Seiring dengan meningkatnya kamera yang beredar di pasaran, serta kamera
DSLR yang sudah dibeli entah itu karena alasan harga yang murah serta
ingin meng-upgrade perangkat mereka, akhirnya muncul lagi pertanyaan
tentang "Lensa apa yang tepat buat kamera DSLR Saya?"
Mungkin akan terasa sulit untuk menjawab pertanyaan ini dimana saat ini
setiap produsen kamera digital menawarkan berbagai macam lensa dengan
kualitas serta harga yang sangat beragam. Perlu diingat juga bahwa
setiap fotografer memiliki gaya foto yang berbeda, mereka memiliki
karakter memotret tersendiri, dan itu bisa menjadi kerumitan tersendiri
ketika menjawab pertanyaan "Lensa apa yang tepat"
Dibawah ini adalah sedikit
tulisan yang mengulas macam-macam jenis lensa yang ditawarkan di pasar
kamera DSLR oleh para produsen kamera. Kami tidak akan membahas sebuah
lensa secara detail, tetapi akan sedikit memberikan pengantar singkat
terhadap istilah serta jenis lensa yang ada di pasar DSLR yang bisa
menjadi pertimbangan ketika Sobat terjun berburu lensa DSLR.
Perlu diingat bahwa kebanyakan kamera DSLR yang berdar tidak semuanya
kamera full-frame, sensor yang dimiliki pada umumnya berukuran lebih
kecil dibandingkan kamera full-frame dan itu berarti hasil lensa tidak
berdampak sama seperti pada full-frame atau pada kamera film.
Tipe lensa DSLR:
- Lensa Standard - Ini adalah istilah yang perlahan-lahan sedikit menghilang dari terminologi dunia fotografi. Digunakan untuk mendeskripsikan lensa dengan range 50mm, karena lensa ini biasanya sudah terpasang pada kamera kamera film.
- Lensa Kit - Saat ini kebanyakan lensa sudah menjadi satu paket dengan kamera DSLR yang dijual, dan biasanya lensa ini di kenal sebagai lensa kit. Lensa ini kebanyakan adalah lensa zoom, dan secara fungsional dikenal sebagai lensa multi-purpose yang memang didesain untuk kepentingan memotret sehari-hari. Fotografer profesional kebanyakan selalu membeli body kamera dan mengupgrade lensa sesuai dengan kebutuhan mereka.
- Lensa Prime / Lensa Fix - Lensa Fix merupakan sebuah lensa yang hanya memiliki satu Focal-Length. Terkadang lensa ini menjadi lensa yang kurang populer dimana para fotografer merasa nyamana dengan lensa yang memiliki range Focal-Length di tangan mereka (lihat ulasan lensa zoom dibawah), tetapi bagaimanapun juga lensa fix layak unutk dipertimbangkan. Lensa zoom memang memiliki keuntukngan pada kualitas yang mereka tawarkan, tetapi lensa fix juga dikenal dengan kualitas gambar serta kecepatan. Ketika kebanyakan orang nyaman dengan lensa zoom, kebalikannya Saya lebih menikmati tantangan dalam menggunakan lensa fix, dan mereka membawa sesuatu dalam dunia fotografi saya, dan biasanya saya akan merasa sedikit malas ketika lensa zoom terpasang.
- Lensa Zoom / Tele - Lensa zoom merupakan lensa DSLR yang paling populer saat ini, hadir dengan konfigurasi range focal length serta tingkatan kualitas. Keuntungan yang paling terlihat dengan menggunakan lensa ini adalah, Sobat tidak perlu mendekat ke subyek untuk mendapatkan framming yang lebih ketat. Lensa ini bisa memberikan range pendek atau cukup panjang. Hal yang perlu diingat ketika membeli kamera ini adalah, semakin panjang focal-length maka akan semakin berdampak pada camera-shake. Kamera dengan focal length yang jauh seperti (300mm) telah difasilitasi dengan Image Stabilisation (IS) untuk mengurangi camera-shake.
- Lensa Makro - Lensa-lensa ini didesain khusus untuk memotret obyek secara close-up. banyak kamera DSLR yang dilengkapi dengan pengaturan 'makro', tetapi menggunakan lensa makro yang sebenarnya akan menghasilkan foto lebih hidup dan memungkinkan Sobat untuk memotret dengan ukuran yang sangat dekat pada obyek.
- Lensa Wide - Seperti namanya, lensa ini mememungkinkan penggunanya untuk memotret dan mendapatkan prespektif yang sangat luas. Lensa wide biasnya digunakan pada pemotretan landscape. Lensa wide hadir dengan focal length seperti lensa fix dan lensa zoom, walaupun hanya memiliki sedikit range pada focal-lengthnya. Perhatikan bahwa banyak lensa wide sedikit banyaknya terkadang memberikan efek 'distort' pada hasil foto, terutama pada tepian foto dengan bentuk yang sedikit melengkung. Bagi beberapa orang bisa menjadi efek yang bagus, tetapi terkadang juga berarti efek yang tidak diinginkan.
Lensa 'Fish-Eye' merupakan lensa
'extreme' dari lensa wide, dimana lensa ini didesain khusus untuk
memberikan efek 'distort' lengkung pada hasil foto Anda, tetapi sekali
lagi hal tersebut tergantung pada gaya serta style seorang fotografer.
06.33
Smartvone
Teknik Fotografi - Ketika pertama kali website serta akun Twitter
ini hadir buat Sobat sekalian, ada banyak sekali pertanyaan tentang
"Kamera apa yang harus saya beli?" dan pertanyaan tersebut banyak sekali
diajukan oleh teman-teman yang baru mulai belajar fotografi dan sedang
mengumpulkan informasi peralatan yang tepat bagi mereka untuk dibeli.
Seiring dengan meningkatnya kamera yang beredar di pasaran, serta kamera
DSLR yang sudah dibeli entah itu karena alasan harga yang murah serta
ingin meng-upgrade perangkat mereka, akhirnya muncul lagi pertanyaan
tentang "Lensa apa yang tepat buat kamera DSLR Saya?"
Mungkin akan terasa sulit untuk menjawab pertanyaan ini dimana saat ini
setiap produsen kamera digital menawarkan berbagai macam lensa dengan
kualitas serta harga yang sangat beragam. Perlu diingat juga bahwa
setiap fotografer memiliki gaya foto yang berbeda, mereka memiliki
karakter memotret tersendiri, dan itu bisa menjadi kerumitan tersendiri
ketika menjawab pertanyaan "Lensa apa yang tepat"
Dibawah ini adalah sedikit
tulisan yang mengulas macam-macam jenis lensa yang ditawarkan di pasar
kamera DSLR oleh para produsen kamera. Kami tidak akan membahas sebuah
lensa secara detail, tetapi akan sedikit memberikan pengantar singkat
terhadap istilah serta jenis lensa yang ada di pasar DSLR yang bisa
menjadi pertimbangan ketika Sobat terjun berburu lensa DSLR.
Perlu diingat bahwa kebanyakan kamera DSLR yang berdar tidak semuanya
kamera full-frame, sensor yang dimiliki pada umumnya berukuran lebih
kecil dibandingkan kamera full-frame dan itu berarti hasil lensa tidak
berdampak sama seperti pada full-frame atau pada kamera film.
Tipe lensa DSLR:
- Lensa Standard - Ini adalah istilah yang perlahan-lahan sedikit menghilang dari terminologi dunia fotografi. Digunakan untuk mendeskripsikan lensa dengan range 50mm, karena lensa ini biasanya sudah terpasang pada kamera kamera film.
- Lensa Kit - Saat ini kebanyakan lensa sudah menjadi satu paket dengan kamera DSLR yang dijual, dan biasanya lensa ini di kenal sebagai lensa kit. Lensa ini kebanyakan adalah lensa zoom, dan secara fungsional dikenal sebagai lensa multi-purpose yang memang didesain untuk kepentingan memotret sehari-hari. Fotografer profesional kebanyakan selalu membeli body kamera dan mengupgrade lensa sesuai dengan kebutuhan mereka.
- Lensa Prime / Lensa Fix - Lensa Fix merupakan sebuah lensa yang hanya memiliki satu Focal-Length. Terkadang lensa ini menjadi lensa yang kurang populer dimana para fotografer merasa nyamana dengan lensa yang memiliki range Focal-Length di tangan mereka (lihat ulasan lensa zoom dibawah), tetapi bagaimanapun juga lensa fix layak unutk dipertimbangkan. Lensa zoom memang memiliki keuntukngan pada kualitas yang mereka tawarkan, tetapi lensa fix juga dikenal dengan kualitas gambar serta kecepatan. Ketika kebanyakan orang nyaman dengan lensa zoom, kebalikannya Saya lebih menikmati tantangan dalam menggunakan lensa fix, dan mereka membawa sesuatu dalam dunia fotografi saya, dan biasanya saya akan merasa sedikit malas ketika lensa zoom terpasang.
- Lensa Zoom / Tele - Lensa zoom merupakan lensa DSLR yang paling populer saat ini, hadir dengan konfigurasi range focal length serta tingkatan kualitas. Keuntungan yang paling terlihat dengan menggunakan lensa ini adalah, Sobat tidak perlu mendekat ke subyek untuk mendapatkan framming yang lebih ketat. Lensa ini bisa memberikan range pendek atau cukup panjang. Hal yang perlu diingat ketika membeli kamera ini adalah, semakin panjang focal-length maka akan semakin berdampak pada camera-shake. Kamera dengan focal length yang jauh seperti (300mm) telah difasilitasi dengan Image Stabilisation (IS) untuk mengurangi camera-shake.
- Lensa Makro - Lensa-lensa ini didesain khusus untuk memotret obyek secara close-up. banyak kamera DSLR yang dilengkapi dengan pengaturan 'makro', tetapi menggunakan lensa makro yang sebenarnya akan menghasilkan foto lebih hidup dan memungkinkan Sobat untuk memotret dengan ukuran yang sangat dekat pada obyek.
- Lensa Wide - Seperti namanya, lensa ini mememungkinkan penggunanya untuk memotret dan mendapatkan prespektif yang sangat luas. Lensa wide biasnya digunakan pada pemotretan landscape. Lensa wide hadir dengan focal length seperti lensa fix dan lensa zoom, walaupun hanya memiliki sedikit range pada focal-lengthnya. Perhatikan bahwa banyak lensa wide sedikit banyaknya terkadang memberikan efek 'distort' pada hasil foto, terutama pada tepian foto dengan bentuk yang sedikit melengkung. Bagi beberapa orang bisa menjadi efek yang bagus, tetapi terkadang juga berarti efek yang tidak diinginkan.
Lensa 'Fish-Eye' merupakan lensa
'extreme' dari lensa wide, dimana lensa ini didesain khusus untuk
memberikan efek 'distort' lengkung pada hasil foto Anda, tetapi sekali
lagi hal tersebut tergantung pada gaya serta style seorang fotografer.
Tips Fotografi -
Fotografi akan terasa mudah jika terdapat cukup cahaya dan kondisi yang
ideal, tetapi seperti yang banyak kita bahas sebelumnya bahwa kondisi
pencahayaan dalam fotografi digtial tidak selalu seperti yang kita
harapkan. Dalam dunia fotografi digital kita bekerja dengan cahaya, sama seperti kita bekerja dengan orang lain, tentu suatu saat akan mengecewakan bukan?
Seorang sobat InFotografi
pernah bertanya tentang bagaimana dia bisa memotret acara pernikahan
temannya, tetapi dia tidak diperbolehkan menggunakan flash. Alasannya
sederhana, cahaya flash menurut mereka akan mengurangi khidmadnya
upacara pengucapan ijab kabul atau sumpah. Pada intinya dia
mempertanyakan bagaimana menghasilkan foto yang bagus tanpa menggunakan
flash pada kondisi rendah cahaya atau low-light. Menurut kami itu adalah
pertanyaan yang bagus sekali, dan tentu semuanya mungkin dalam dunia
fotografi digital, tetapi tentu saja pasti ada faktor keuntungan dan
kerugian dalam menerapkan sebuah teknik bukan? Mari kita bahas lewat
artikel ini!
Flash merupakan solusi terbaik pada fotografi low-light,
tetapi masalahnya tidak semua situasi memungkinkan untuk penggunaan
flash. Tidak hanya akan mengganggu konsentrasi jalannya acara, tetapi
juga flash akan mengakibatkan hasil foto kalian terasa datar atau flat.
Hal tersebut kemungkinan besar terjadi jika Sobat menggunakan flash
built-in bawaan dari kamera digital. Flash built-in (flash pada umumnya) berarti memberikan pencahayaan pada subyek dari arah depan.
Hal tersebut tentu bisa dihindari dengan beberapa cara, tergantung dari
subyek serta bagaimana karakter cahaya. Pelajari bagaimana melihat
jatuhnya cahaya di sekitar, sehingga Sobat bisa mengerti apakah
penggunaan flash bisa bekerja dengan baik atau tidak. Caya yang baik
untuk menghadapi masalah pencahayaan rendah atau low-light adalah dengan
menggunakan pengaturan ISO tinggi. ISO adalah tingkat kesensitifan sensor terhadap cahaya.
Kekhawatiran ketika menggunakan ISO tinggi adalah NOISE,
jika kalian merasa pengaturan ISO sudah sempurna tetapi belum tentu
sempurna untuk noise yang akan diakibatkannya. Dalam era fotografi
digital Sobat bisa mengurangi tingkat NOISE yang ada pada sebuah foto
dengan menggunakan perangkat lunak. Saat ini terdapat Dua software
menurut kami yang bagus untuk Noise Reduction, yaitu: "Noise Ninja" atau
"Neat Image". Jika Sobat tidak menaikkan pengaturan ISO serta tidak
memiliki tripod, maka kemungkinan besar kalian akan menghadapi masalah
'camera shake'. Cobalah untuk menaikkan ISO, dan kalian akan mengerti
kenapa NOISE itu lebih baik daripada 'camera shake'. Dalam dunia
fotografi digital NOISE akan selalu menjadi satu hal yang perlu
dipertimbangkan.
Salah satu keuntungan kita dalam era fotografi digital adalah, ISO
tinggi memudahkan kita memotret pada kondisi rendah cahaya. Pada era
fotografi film, kalian harus mengganti rol film yang memiliki ISO atau
ASA yang lebih tinggi, benar-benar mempermudah kita bukan? Ini merupakan
keuntungan yang bisa kita manfaatkan sebagai seorang fotografer
digital.
Contoh yang lain adalah ketika kita memotret di dalam ruangan, seperti
sebuah pidato sambutan, atau konser musik klasik. Flash kemungkinan
besar tidak akan diperbolehkan pada situasi seperti ini, jadi bagaimana
kita mengatasinya? Rubah ISO kalian ke pengaturan yang lebih tinggi,
jika kalian menggunakan "Auto ISO" pada kamera digital kalian, maka
kamera akan mendeteksi penggunaan ISO tinggi yang diperlukan. Sobat
tentu bisa mengatur ISO secara manual, bertambahnya tingkat sensitifitas
terhadap cahaya akan memperbesar peluang untuk mendapatkan exposure
yang pas untuk kondisi rendah cahaya. Sobat bisa memutuskan untuk lebih
meninggikan pengaturan ISO dan memilih shutter speed lebih cepat, jika
masih mengalami camera shake serta tidak memiliki Tripod.
Cara lain yang bisa dilakukan pada kondisi rendah cahaya adalah dengan
menggunakan Lensa Cepat (Fast-Lens), tetapi tentu akan menguras kantong
seorang fotografer pemula bukan? Berikut ini merupakan Tips yang bisa
Sobat lakukan jika tidak memiliki Fast-lens, Tripod serta larangan
penggunaan flash:
- Tinggikan ISO seperlunya.
- Memotret menggunakan Format RAW
- Gunakan Aperture Priority dengan f-stop paling rendah, fash-lens biasanya memiliki f-stop terendah f1/8 atau bisa lebih rendah lagi.
- Jika hal diatas masih menghasilkan shutter speed yang terlalu rendah untuk dipegang, maka kalian bisa menurunkan exposure compensation sebanyak satu stop, itu akan meningkatkan shutter, dan kemudian rubah expsosurenya di post-produksi (gunakan format RAW).
- Sobat bisa menggunakan software Noise Reduction, untuk mengurangi grain serta noise.
06.31
Smartvone
Tips Fotografi -
Fotografi akan terasa mudah jika terdapat cukup cahaya dan kondisi yang
ideal, tetapi seperti yang banyak kita bahas sebelumnya bahwa kondisi
pencahayaan dalam fotografi digtial tidak selalu seperti yang kita
harapkan. Dalam dunia fotografi digital kita bekerja dengan cahaya, sama seperti kita bekerja dengan orang lain, tentu suatu saat akan mengecewakan bukan?
Seorang sobat InFotografi
pernah bertanya tentang bagaimana dia bisa memotret acara pernikahan
temannya, tetapi dia tidak diperbolehkan menggunakan flash. Alasannya
sederhana, cahaya flash menurut mereka akan mengurangi khidmadnya
upacara pengucapan ijab kabul atau sumpah. Pada intinya dia
mempertanyakan bagaimana menghasilkan foto yang bagus tanpa menggunakan
flash pada kondisi rendah cahaya atau low-light. Menurut kami itu adalah
pertanyaan yang bagus sekali, dan tentu semuanya mungkin dalam dunia
fotografi digital, tetapi tentu saja pasti ada faktor keuntungan dan
kerugian dalam menerapkan sebuah teknik bukan? Mari kita bahas lewat
artikel ini!
Flash merupakan solusi terbaik pada fotografi low-light,
tetapi masalahnya tidak semua situasi memungkinkan untuk penggunaan
flash. Tidak hanya akan mengganggu konsentrasi jalannya acara, tetapi
juga flash akan mengakibatkan hasil foto kalian terasa datar atau flat.
Hal tersebut kemungkinan besar terjadi jika Sobat menggunakan flash
built-in bawaan dari kamera digital. Flash built-in (flash pada umumnya) berarti memberikan pencahayaan pada subyek dari arah depan.
Hal tersebut tentu bisa dihindari dengan beberapa cara, tergantung dari
subyek serta bagaimana karakter cahaya. Pelajari bagaimana melihat
jatuhnya cahaya di sekitar, sehingga Sobat bisa mengerti apakah
penggunaan flash bisa bekerja dengan baik atau tidak. Caya yang baik
untuk menghadapi masalah pencahayaan rendah atau low-light adalah dengan
menggunakan pengaturan ISO tinggi. ISO adalah tingkat kesensitifan sensor terhadap cahaya.
Kekhawatiran ketika menggunakan ISO tinggi adalah NOISE,
jika kalian merasa pengaturan ISO sudah sempurna tetapi belum tentu
sempurna untuk noise yang akan diakibatkannya. Dalam era fotografi
digital Sobat bisa mengurangi tingkat NOISE yang ada pada sebuah foto
dengan menggunakan perangkat lunak. Saat ini terdapat Dua software
menurut kami yang bagus untuk Noise Reduction, yaitu: "Noise Ninja" atau
"Neat Image". Jika Sobat tidak menaikkan pengaturan ISO serta tidak
memiliki tripod, maka kemungkinan besar kalian akan menghadapi masalah
'camera shake'. Cobalah untuk menaikkan ISO, dan kalian akan mengerti
kenapa NOISE itu lebih baik daripada 'camera shake'. Dalam dunia
fotografi digital NOISE akan selalu menjadi satu hal yang perlu
dipertimbangkan.
Salah satu keuntungan kita dalam era fotografi digital adalah, ISO
tinggi memudahkan kita memotret pada kondisi rendah cahaya. Pada era
fotografi film, kalian harus mengganti rol film yang memiliki ISO atau
ASA yang lebih tinggi, benar-benar mempermudah kita bukan? Ini merupakan
keuntungan yang bisa kita manfaatkan sebagai seorang fotografer
digital.
Contoh yang lain adalah ketika kita memotret di dalam ruangan, seperti
sebuah pidato sambutan, atau konser musik klasik. Flash kemungkinan
besar tidak akan diperbolehkan pada situasi seperti ini, jadi bagaimana
kita mengatasinya? Rubah ISO kalian ke pengaturan yang lebih tinggi,
jika kalian menggunakan "Auto ISO" pada kamera digital kalian, maka
kamera akan mendeteksi penggunaan ISO tinggi yang diperlukan. Sobat
tentu bisa mengatur ISO secara manual, bertambahnya tingkat sensitifitas
terhadap cahaya akan memperbesar peluang untuk mendapatkan exposure
yang pas untuk kondisi rendah cahaya. Sobat bisa memutuskan untuk lebih
meninggikan pengaturan ISO dan memilih shutter speed lebih cepat, jika
masih mengalami camera shake serta tidak memiliki Tripod.
Cara lain yang bisa dilakukan pada kondisi rendah cahaya adalah dengan
menggunakan Lensa Cepat (Fast-Lens), tetapi tentu akan menguras kantong
seorang fotografer pemula bukan? Berikut ini merupakan Tips yang bisa
Sobat lakukan jika tidak memiliki Fast-lens, Tripod serta larangan
penggunaan flash:
- Tinggikan ISO seperlunya.
- Memotret menggunakan Format RAW
- Gunakan Aperture Priority dengan f-stop paling rendah, fash-lens biasanya memiliki f-stop terendah f1/8 atau bisa lebih rendah lagi.
- Jika hal diatas masih menghasilkan shutter speed yang terlalu rendah untuk dipegang, maka kalian bisa menurunkan exposure compensation sebanyak satu stop, itu akan meningkatkan shutter, dan kemudian rubah expsosurenya di post-produksi (gunakan format RAW).
- Sobat bisa menggunakan software Noise Reduction, untuk mengurangi grain serta noise.
Kamera DSLR keluaran terbaru dari Canon ini tampaknya memang ditawarkan pada fotografer pemula yang ingin membawa fotografi mereka ke tingkat lebih lanjut. Canon EOS 700D
masih tetap mempertahankan bentuk layar LCD pendahulunya Canon EOS
650D. Hal ini memudahkan Sobat memotret dengan angle yang lebih leluasa,
dilengkapi dengan teknologi layar sentuh untuk mengakses menu-menu di
dalam kamera. Sobat dengan mudah memperbesar hasil foto hanya dengan
gerakan jari seperti "mencubit" saat mereview foto. Mode scene dan
pilihan manual bisa ditemukan dalam bentuk "dial" agar mudah diakses,
dan juga ada tombol yang bisa langsung digunakan untuk mengakses Live
View. Kamera ini juga akan mematikan layar LCD secara otomatis ketika
sobat menempatkan mata pada viewfinder.
Photo: Dave Dugdale
Jika Sobat khawatir akan banyaknya menu yang ada di dalam kamera, maka kamera ini bisa merupakan pilihan yang tepat bagi Kalian karena dilengkapi dengan panduan serta tips yang muncul ketika Sobat menekan menu pengaturan seperti aperture atau white balance. Tips dan panduan ini menjelaskan fungsi menu dan membantu Sobat untuk memutuskan pilihan pengaturan. Canon EOS 700D mampu memotret Lima frame perdetik untuk membekukan obyek gerak (action), sementara sistem Hybrid AF bisa terfokus secara cepat. Sobat juga bisa menggunakan Movie Serfo AF untuk memfokuskan pada subyek yang bergerak ketika mengambil movie full HD.
Jika Sobat senang melakukan eksperimen terhadap foto/gambar, maka Sobat bisa menemukan banyak sekali filter kreatif yang bisa Kalian pilih, diantaranya adalah: Fisheye dan Miniature. Sedikit disayangkan kamera ini tidak memiliki fitur Wi-Fi built in seperti yang bisa ditemukan pada kamera keluaran Canon yang lainnya.
Kualitas gambar cukup tinggi, dan sistem metering berdasarkan pengujian menunjukkan hasil yang cukup akurat. Foto terlihat bebas noise sampai dengan pengaturan ISO 800, dan gambar mulai kehilangan detail dan saturasi warna pada ISO 1600.
Kamera Canon EOS 700D juga dikenal dengan Rebel T5i dan kisaran harganya adalah $900 termasuk lensa kit 18-55mm. Bagi sobat yang lagi cari-cari kamera DSLR dan serius dalam fotografi dan mengutamakan kualitas gambar maka kamera ini cocok bagi kalian.
Kesimpulan Canon EOS 700D:
Kelebihan :
- Kualitas gambar tinggi, dengan hasil warna yang realistis serta sistem metering yang cukup akurat
- Sangat cocok untuk fotografer pemula, dan panduan serta tips dalam menu kamera bisa sangat membantu
Kekurangan:
- Tidak adanya koneksi Wi-Fi yang bisa membantu Sobat berbagi foto dengan cepat.
- Plastik masih sangat terasa saat memegang kamera ini.
Spesifikasi:
- Megapixels: 18 MP
- Zoom: Mendukung beragam lensa EF dan EF-S
- Shutter Speed: 30-1/4000sec plus Bulb, Bagus untuk long exposures dalam kondisi rendah cahaya
- ISO: 100-12800, mampu expand sampai 25600, memiliki jangkauan ISO yang luas untuk memotret di kondisi rendah cahaya
- Mode Exposure: 7 Mode Scene, auto, creative auto, program, manual, Av dan Tv
- Mode Flash: A, FOn, FOff
- Berat: 580g dengan baterai
- Dimensi: 133.1 x 99.8 x 78.8mm
- Baterai: Li-ion
- Screen/Layar: 3 inchi
- Storage: SD, SDHC, SDXC (UHSH)
06.30
Smartvone
Kamera DSLR keluaran terbaru dari Canon ini tampaknya memang ditawarkan pada fotografer pemula yang ingin membawa fotografi mereka ke tingkat lebih lanjut. Canon EOS 700D
masih tetap mempertahankan bentuk layar LCD pendahulunya Canon EOS
650D. Hal ini memudahkan Sobat memotret dengan angle yang lebih leluasa,
dilengkapi dengan teknologi layar sentuh untuk mengakses menu-menu di
dalam kamera. Sobat dengan mudah memperbesar hasil foto hanya dengan
gerakan jari seperti "mencubit" saat mereview foto. Mode scene dan
pilihan manual bisa ditemukan dalam bentuk "dial" agar mudah diakses,
dan juga ada tombol yang bisa langsung digunakan untuk mengakses Live
View. Kamera ini juga akan mematikan layar LCD secara otomatis ketika
sobat menempatkan mata pada viewfinder.
Photo: Dave Dugdale
Jika Sobat khawatir akan banyaknya menu yang ada di dalam kamera, maka kamera ini bisa merupakan pilihan yang tepat bagi Kalian karena dilengkapi dengan panduan serta tips yang muncul ketika Sobat menekan menu pengaturan seperti aperture atau white balance. Tips dan panduan ini menjelaskan fungsi menu dan membantu Sobat untuk memutuskan pilihan pengaturan. Canon EOS 700D mampu memotret Lima frame perdetik untuk membekukan obyek gerak (action), sementara sistem Hybrid AF bisa terfokus secara cepat. Sobat juga bisa menggunakan Movie Serfo AF untuk memfokuskan pada subyek yang bergerak ketika mengambil movie full HD.
Jika Sobat senang melakukan eksperimen terhadap foto/gambar, maka Sobat bisa menemukan banyak sekali filter kreatif yang bisa Kalian pilih, diantaranya adalah: Fisheye dan Miniature. Sedikit disayangkan kamera ini tidak memiliki fitur Wi-Fi built in seperti yang bisa ditemukan pada kamera keluaran Canon yang lainnya.
Kualitas gambar cukup tinggi, dan sistem metering berdasarkan pengujian menunjukkan hasil yang cukup akurat. Foto terlihat bebas noise sampai dengan pengaturan ISO 800, dan gambar mulai kehilangan detail dan saturasi warna pada ISO 1600.
Kamera Canon EOS 700D juga dikenal dengan Rebel T5i dan kisaran harganya adalah $900 termasuk lensa kit 18-55mm. Bagi sobat yang lagi cari-cari kamera DSLR dan serius dalam fotografi dan mengutamakan kualitas gambar maka kamera ini cocok bagi kalian.
Kesimpulan Canon EOS 700D:
Kelebihan :
- Kualitas gambar tinggi, dengan hasil warna yang realistis serta sistem metering yang cukup akurat
- Sangat cocok untuk fotografer pemula, dan panduan serta tips dalam menu kamera bisa sangat membantu
Kekurangan:
- Tidak adanya koneksi Wi-Fi yang bisa membantu Sobat berbagi foto dengan cepat.
- Plastik masih sangat terasa saat memegang kamera ini.
Spesifikasi:
- Megapixels: 18 MP
- Zoom: Mendukung beragam lensa EF dan EF-S
- Shutter Speed: 30-1/4000sec plus Bulb, Bagus untuk long exposures dalam kondisi rendah cahaya
- ISO: 100-12800, mampu expand sampai 25600, memiliki jangkauan ISO yang luas untuk memotret di kondisi rendah cahaya
- Mode Exposure: 7 Mode Scene, auto, creative auto, program, manual, Av dan Tv
- Mode Flash: A, FOn, FOff
- Berat: 580g dengan baterai
- Dimensi: 133.1 x 99.8 x 78.8mm
- Baterai: Li-ion
- Screen/Layar: 3 inchi
- Storage: SD, SDHC, SDXC (UHSH)
Tips Fotografi - Apa sih low-key lighting itu? Menurut wikipedia, low key lighting
bertujuan untuk menciptakan efek chiaroscuro. Pada fotografi
tradisional pencahayan threepoint biasanya menggunakan sebuah key light,
fill light dan back light. Low-key hanya memerlukan satu key light, dan
terkadang bisa ditambahkan satu fill light atau reflektor sederhana.
Low-Key biasanya menggunakan background gelap. untuk lebih jelasnya yuk
simak ulasan bagaimana memotret Low-key Portrait dibawah ini:
Photo: Marta Monleon
1. Gunakan lokasi yang tepat
Foto-Foto low-key identink dengan cahaya yang remang-remang, jadi Sobat perlu untuk menggunakan sebuah lokasi atau tempat pemotretan yang gelap. Lokasi tersebut bisa jadi sebuah kamar yang gelap dengan sebuah tirai bewarna hitam, atau bisa memotret di malam hari.
2. Sumber Cahaya
Foto-foto Low-key menggunakan satu sumber cahaya. Sobat bisa menggunakan natural light atau cahaya alami yang berasal dari jendela, sebuah lampu meja atau lampu jalanan. Posisikan subyek terhadap arah cahaya sehingga membuat efek yang dramatis.
3. Exposure
Jika hasil foto Sobat terasa terlalu gelap, meskipun telah menggunakan aperture lebar, maka cobalah untuk menaikkan pengaturan ISO. Perhatikan kemungkinan digital grain yang muncul akibat penggunaan ISO yang terlalu tinggi. Sobat juga bisa mencoba untuk bereksperimen dengan exposure compensation untuk menaikkan tingkat kecerahan.
4. Jangan Gunakan Flash
Low-key portrait cukup menggunakan satu sumber cahaya, jadi ingatlah untuk mematikan flash kalian. Sobat bisa menggunakan flash sebagai sumber cahaya, tetapi akan lebih baik jika cahaya tidak berasal dari depan subyek melainkan dari samping subyek.
5. Komposisi
Pada foto Portrait, idealnya memang wajah subyek selalu menghadap ke kamera kita, tetapi Sobat masih bebas untuk bereksperimen, foto obyek yang tidak melakukan eye contact dengan kamera juga bisa membuat foto tampak lebih dramatis.
Tips Low-key Portrait
- Beberapa kamera digital sudah dilengkapi dengan mode otomatis untuk foto Low-key. Mode ini bisa memberikan pengaturan yang Sobat butuhkan untuk memotret Low-key Portrait
- Masih ingat dengan kalimat "The Eyes Are Window To The Soul" bukan? jadi fokuskan ke arah mata subyek menggunakan selective focus, atau juga bisa menggunakan manual focus.
- Gunakan mode Aperture Priority serta setting ke bilangan f rendah agar cahaya mudah masuk ke dalam lensa serta menciptakan depth of field sempit.
06.27
Smartvone
Tips Fotografi - Apa sih low-key lighting itu? Menurut wikipedia, low key lighting
bertujuan untuk menciptakan efek chiaroscuro. Pada fotografi
tradisional pencahayan threepoint biasanya menggunakan sebuah key light,
fill light dan back light. Low-key hanya memerlukan satu key light, dan
terkadang bisa ditambahkan satu fill light atau reflektor sederhana.
Low-Key biasanya menggunakan background gelap. untuk lebih jelasnya yuk
simak ulasan bagaimana memotret Low-key Portrait dibawah ini:
Photo: Marta Monleon
1. Gunakan lokasi yang tepat
Foto-Foto low-key identink dengan cahaya yang remang-remang, jadi Sobat perlu untuk menggunakan sebuah lokasi atau tempat pemotretan yang gelap. Lokasi tersebut bisa jadi sebuah kamar yang gelap dengan sebuah tirai bewarna hitam, atau bisa memotret di malam hari.
2. Sumber Cahaya
Foto-foto Low-key menggunakan satu sumber cahaya. Sobat bisa menggunakan natural light atau cahaya alami yang berasal dari jendela, sebuah lampu meja atau lampu jalanan. Posisikan subyek terhadap arah cahaya sehingga membuat efek yang dramatis.
3. Exposure
Jika hasil foto Sobat terasa terlalu gelap, meskipun telah menggunakan aperture lebar, maka cobalah untuk menaikkan pengaturan ISO. Perhatikan kemungkinan digital grain yang muncul akibat penggunaan ISO yang terlalu tinggi. Sobat juga bisa mencoba untuk bereksperimen dengan exposure compensation untuk menaikkan tingkat kecerahan.
4. Jangan Gunakan Flash
Low-key portrait cukup menggunakan satu sumber cahaya, jadi ingatlah untuk mematikan flash kalian. Sobat bisa menggunakan flash sebagai sumber cahaya, tetapi akan lebih baik jika cahaya tidak berasal dari depan subyek melainkan dari samping subyek.
5. Komposisi
Pada foto Portrait, idealnya memang wajah subyek selalu menghadap ke kamera kita, tetapi Sobat masih bebas untuk bereksperimen, foto obyek yang tidak melakukan eye contact dengan kamera juga bisa membuat foto tampak lebih dramatis.
Tips Low-key Portrait
- Beberapa kamera digital sudah dilengkapi dengan mode otomatis untuk foto Low-key. Mode ini bisa memberikan pengaturan yang Sobat butuhkan untuk memotret Low-key Portrait
- Masih ingat dengan kalimat "The Eyes Are Window To The Soul" bukan? jadi fokuskan ke arah mata subyek menggunakan selective focus, atau juga bisa menggunakan manual focus.
- Gunakan mode Aperture Priority serta setting ke bilangan f rendah agar cahaya mudah masuk ke dalam lensa serta menciptakan depth of field sempit.
White Balance
22. Memotret Outdoor
Gunakan pengaturan white balance pada Daylight atau Cloudy saat memotret di luar ruangan, tergantung dari kondisi saat Sobat memotret. Daylight memiliki warna yang cederung "cool", sedangkan cloudy cenderung ke warna "warm"
23. Penggunaan Flash
Cahaya flash berpotensi mengakibatkan warna biru pada foto kalian, jadi gunakan pengaturan white balance Flash untuk mengoreksi warna pada foto kalian.
24. Memotret Indoor
Gunakan pengaturan white balance Tungsten pada kondisi pencahayaan yang menggunakan cahaya lampu pijar, pengaturan white balance ini bisa mengoreksi dan mendinginkan keluaran warna. Sobat juga bisa menggunakan Fluorescent untuk cahaya neon.
25. Gunakan format RAW
Memotret menggunakan format RAW akan memberikan pilihan lebih ketika Sobat melakukan post produksi menggunakan perangkat lunak editting gambar. Kebebasan pilihan ini juga termasuk pada perubahan white balance.
06.24
Smartvone
White Balance
22. Memotret Outdoor
Gunakan pengaturan white balance pada Daylight atau Cloudy saat memotret di luar ruangan, tergantung dari kondisi saat Sobat memotret. Daylight memiliki warna yang cederung "cool", sedangkan cloudy cenderung ke warna "warm"
23. Penggunaan Flash
Cahaya flash berpotensi mengakibatkan warna biru pada foto kalian, jadi gunakan pengaturan white balance Flash untuk mengoreksi warna pada foto kalian.
24. Memotret Indoor
Gunakan pengaturan white balance Tungsten pada kondisi pencahayaan yang menggunakan cahaya lampu pijar, pengaturan white balance ini bisa mengoreksi dan mendinginkan keluaran warna. Sobat juga bisa menggunakan Fluorescent untuk cahaya neon.
25. Gunakan format RAW
Memotret menggunakan format RAW akan memberikan pilihan lebih ketika Sobat melakukan post produksi menggunakan perangkat lunak editting gambar. Kebebasan pilihan ini juga termasuk pada perubahan white balance.
Teknik Fotografi - Exposure bisa dikatakan adalah jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera pada saat Sobat memotret scene atau pemandangan yang ada di depan kalian. Seperti yang telah banyak kita bahas pada artikel-artikel sebelumnya bahwa Exposure ditentukan oleh Tiga faktor, yaitu: aperture, shutter speed, dan ISO. Sobat bisa merubah pengaturan ketiga faktor tersebut di kamera jika menggunakan mode manual. Perubahan pengaturan tersebut tentu akan mengendalikan berapa banyak cahaya yang mencapai sensor kamera.
Terlalu banyak cahaya akan mengakibatkan hasil foto yang overexposure
atau blown-out, dan sebaliknya jika sensor kurang cahaya pada saat
pengambilan gambar akan menyebabkan hasil foto yang underexposure atau
gelap.
Sobat juga bisa menentukan tingkat sensitifitas sensor terhadap cahaya. Konsep dari exposure adalah bagaimana keseimbangan antara ketiga faktor tersebut agar menghasilkan foto atau gambar yang memiliki exposure yang PAS. Sobat juga bisa merubah pengaturan exposure untuk mendapatkan efek kreatif dengan kamera kalian. Baca lebih lanjut ulasannya berikut ini yuk!
Sobat juga bisa menentukan tingkat sensitifitas sensor terhadap cahaya. Konsep dari exposure adalah bagaimana keseimbangan antara ketiga faktor tersebut agar menghasilkan foto atau gambar yang memiliki exposure yang PAS. Sobat juga bisa merubah pengaturan exposure untuk mendapatkan efek kreatif dengan kamera kalian. Baca lebih lanjut ulasannya berikut ini yuk!
SHUTTER SPEED
11. Kendalikan cahaya
Shutter kamera akan terbuka saat memotret, dan menyebabkan cahaya masuk dan mengenai sensor, dan kemudian tertutup kembali disaat proses exposure selesai. Shutter speed adalah rentang waktu shutter terbuka dan menentukan berapa banyak cahaya masuk ke dalam kamera. Logikanya, Shutter speed lambat berarti cahaya yang masuk akan lebih banyak, dan ini berguna sekali digunakan pada saat memotret dengan kondisi kurang cahaya. Shutter Speed cepat hanya memperbolehkan sedikit cahaya masuk ke dalam kamera, dan biasanya digunakan pada saat kondisi ruangan atau lingkungan yang terang. Shutter speed diukur dengan satuan detik atau pecahan. (baca lebih lanjut di artikel: mengenal shutter speed dalam fotografi)
12. Merekam Gerakan
Mengontrol shutter speed juga berguna ketika memotret obyek gerak. Shutter speed yang relatif cepat akan "membekukan" sebuah gerakan, dan juga memungkinkan Sobat memotret tanpa menghasilkan foto yang blur. Shutter speed lambat bisa menangkap gerakan dan menghasilkan blur. Sobat bisa dengan mudah melihatnya saat memotret ombak lautan atau air terjun, Perhatikan bahwa air akan tampak lebih lembut dan seperti kapas. Jika Sobat menggunakan Shutter speed lambat kemungkinan besar akan membutuhkan sebuah tripod serta permukaan yang rata, atau jika tidak maka Sobat akan mendapati foto-foto yang blur.
APERTURE
13. Gunakan Aperture untuk mengontrol cahaya
Aperture adalah lubang pada lensa dimana cahaya masuk sebelum terekam oleh sensor kamera. Ukuran dari lubang tersebut (sempit ke lebar) ditentukan oleh pisau-pisau aperture. Nilai Aperture diukur dalam bentuk f-stop. Aperture lebar (bilangan f kecil) menciptakan lubang yang relatif besar dan memungkinkan cahaya dalam jumlah besar mencapai sensor, sebaliknya aperture kecil/sempit (bilangan f besar) menciptakan ukuran lubang yang lebih kecil, dan hanya memperbolehkan sedikit cahaya yang bisa mencapai sensor. Dampaknya adalah: jika Sobat menggunakan aperture sempit/kecil, maka Sobat akan membutuhkan shutter speed yang relatif lambat guna mendapatkan foto yang memiliki exposure sempurna.
14. Kontrol Depth of Field
Aperture juga mengendalikan Depth of Field foto-foto kalian. Depth of Field (DoF) adalah banyaknya area foto yang terfokus (Ruang tajam). Aperture lebar (bilangan f kecil) menciptakan Depth of Field yang sempit dan memiliki dampak background blur pada sebuah foto. Ini sangat berguna pada fotografi makro dan portrait, karena dengan background blur akan membantu menonjolkan subyek utama atau point of interest pada bagian foreground. Aperture lebar (bilangan f besar) menciptakan depth of field yang lebar dan merata pada foto kalian, ini berarti baik foreground maupun background foto akan terfokus dengan baik. ini cocok Sobat gunakan pada foto-foto landscapes dan arsitektur.
ISO
15. Buatlah sensor lebih sensitif
ISO merupakan tingkat sensitifitas sensor kamera terhadap cahaya. ISO rendah seperti 100-200 bisa dikatakan memiliki tingkat kesensitifan sensor yang normal, jadi jika Sobat memotret pada kondisi rendah cahaya maka kalian akan membutuhkan shutter speed lambat atau aperture lebar agar mendapatkan cahaya yang cukup. ISO 400 atau lebih akan membuat sensor lebih sensitif, pengaturan ini akan memberikan shutter speed yang lebih cepat serta aperture yang lebih sempit pada kondisi kurang cahaya.
16. Hindari noise
Penggunaan ISO tinggi memiliki sebuah konsekuensi. Semakin sensitif sensor kamera maka kualitas foto akan semakin menurun, hal ini ditandai dengan munculnya noise, bercak, detil kurang pada foto kalian. Sobat jangan takut, kamera keluaran baru sudah semain baik menghandle dampak dari ISO tinggi, tetapi alangkah baiknya jangan terlalu tinggi dalam menggunakan ISO. Perlambat Shutter speed untuk membiarkan cukup cahaya masuk ke dalam sensor, dan naikkan ISO hanya jika Sobat membutuhkan Shutter speed yang lebih cepat.
17. Lihat EXIF
Jika Sobat mendapati fota yang memiliki exposure salah, maka cobalah lihat kembali meta data atau EXIF pada menu kamera. Lihatlah pengaturan yang telah Sobat gunakan, dan belajarlah dari kesalahan tersebut.
06.23
Smartvone
Teknik Fotografi - Exposure bisa dikatakan adalah jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera pada saat Sobat memotret scene atau pemandangan yang ada di depan kalian. Seperti yang telah banyak kita bahas pada artikel-artikel sebelumnya bahwa Exposure ditentukan oleh Tiga faktor, yaitu: aperture, shutter speed, dan ISO. Sobat bisa merubah pengaturan ketiga faktor tersebut di kamera jika menggunakan mode manual. Perubahan pengaturan tersebut tentu akan mengendalikan berapa banyak cahaya yang mencapai sensor kamera.
Terlalu banyak cahaya akan mengakibatkan hasil foto yang overexposure
atau blown-out, dan sebaliknya jika sensor kurang cahaya pada saat
pengambilan gambar akan menyebabkan hasil foto yang underexposure atau
gelap.
Sobat juga bisa menentukan tingkat sensitifitas sensor terhadap cahaya. Konsep dari exposure adalah bagaimana keseimbangan antara ketiga faktor tersebut agar menghasilkan foto atau gambar yang memiliki exposure yang PAS. Sobat juga bisa merubah pengaturan exposure untuk mendapatkan efek kreatif dengan kamera kalian. Baca lebih lanjut ulasannya berikut ini yuk!
Sobat juga bisa menentukan tingkat sensitifitas sensor terhadap cahaya. Konsep dari exposure adalah bagaimana keseimbangan antara ketiga faktor tersebut agar menghasilkan foto atau gambar yang memiliki exposure yang PAS. Sobat juga bisa merubah pengaturan exposure untuk mendapatkan efek kreatif dengan kamera kalian. Baca lebih lanjut ulasannya berikut ini yuk!
SHUTTER SPEED
11. Kendalikan cahaya
Shutter kamera akan terbuka saat memotret, dan menyebabkan cahaya masuk dan mengenai sensor, dan kemudian tertutup kembali disaat proses exposure selesai. Shutter speed adalah rentang waktu shutter terbuka dan menentukan berapa banyak cahaya masuk ke dalam kamera. Logikanya, Shutter speed lambat berarti cahaya yang masuk akan lebih banyak, dan ini berguna sekali digunakan pada saat memotret dengan kondisi kurang cahaya. Shutter Speed cepat hanya memperbolehkan sedikit cahaya masuk ke dalam kamera, dan biasanya digunakan pada saat kondisi ruangan atau lingkungan yang terang. Shutter speed diukur dengan satuan detik atau pecahan. (baca lebih lanjut di artikel: mengenal shutter speed dalam fotografi)
12. Merekam Gerakan
Mengontrol shutter speed juga berguna ketika memotret obyek gerak. Shutter speed yang relatif cepat akan "membekukan" sebuah gerakan, dan juga memungkinkan Sobat memotret tanpa menghasilkan foto yang blur. Shutter speed lambat bisa menangkap gerakan dan menghasilkan blur. Sobat bisa dengan mudah melihatnya saat memotret ombak lautan atau air terjun, Perhatikan bahwa air akan tampak lebih lembut dan seperti kapas. Jika Sobat menggunakan Shutter speed lambat kemungkinan besar akan membutuhkan sebuah tripod serta permukaan yang rata, atau jika tidak maka Sobat akan mendapati foto-foto yang blur.
APERTURE
13. Gunakan Aperture untuk mengontrol cahaya
Aperture adalah lubang pada lensa dimana cahaya masuk sebelum terekam oleh sensor kamera. Ukuran dari lubang tersebut (sempit ke lebar) ditentukan oleh pisau-pisau aperture. Nilai Aperture diukur dalam bentuk f-stop. Aperture lebar (bilangan f kecil) menciptakan lubang yang relatif besar dan memungkinkan cahaya dalam jumlah besar mencapai sensor, sebaliknya aperture kecil/sempit (bilangan f besar) menciptakan ukuran lubang yang lebih kecil, dan hanya memperbolehkan sedikit cahaya yang bisa mencapai sensor. Dampaknya adalah: jika Sobat menggunakan aperture sempit/kecil, maka Sobat akan membutuhkan shutter speed yang relatif lambat guna mendapatkan foto yang memiliki exposure sempurna.
14. Kontrol Depth of Field
Aperture juga mengendalikan Depth of Field foto-foto kalian. Depth of Field (DoF) adalah banyaknya area foto yang terfokus (Ruang tajam). Aperture lebar (bilangan f kecil) menciptakan Depth of Field yang sempit dan memiliki dampak background blur pada sebuah foto. Ini sangat berguna pada fotografi makro dan portrait, karena dengan background blur akan membantu menonjolkan subyek utama atau point of interest pada bagian foreground. Aperture lebar (bilangan f besar) menciptakan depth of field yang lebar dan merata pada foto kalian, ini berarti baik foreground maupun background foto akan terfokus dengan baik. ini cocok Sobat gunakan pada foto-foto landscapes dan arsitektur.
ISO
15. Buatlah sensor lebih sensitif
ISO merupakan tingkat sensitifitas sensor kamera terhadap cahaya. ISO rendah seperti 100-200 bisa dikatakan memiliki tingkat kesensitifan sensor yang normal, jadi jika Sobat memotret pada kondisi rendah cahaya maka kalian akan membutuhkan shutter speed lambat atau aperture lebar agar mendapatkan cahaya yang cukup. ISO 400 atau lebih akan membuat sensor lebih sensitif, pengaturan ini akan memberikan shutter speed yang lebih cepat serta aperture yang lebih sempit pada kondisi kurang cahaya.
16. Hindari noise
Penggunaan ISO tinggi memiliki sebuah konsekuensi. Semakin sensitif sensor kamera maka kualitas foto akan semakin menurun, hal ini ditandai dengan munculnya noise, bercak, detil kurang pada foto kalian. Sobat jangan takut, kamera keluaran baru sudah semain baik menghandle dampak dari ISO tinggi, tetapi alangkah baiknya jangan terlalu tinggi dalam menggunakan ISO. Perlambat Shutter speed untuk membiarkan cukup cahaya masuk ke dalam sensor, dan naikkan ISO hanya jika Sobat membutuhkan Shutter speed yang lebih cepat.
17. Lihat EXIF
Jika Sobat mendapati fota yang memiliki exposure salah, maka cobalah lihat kembali meta data atau EXIF pada menu kamera. Lihatlah pengaturan yang telah Sobat gunakan, dan belajarlah dari kesalahan tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)




















![Getty Villa (Inner Peristyle) [Explored]](http://farm5.staticflickr.com/4059/4591088013_6ab86da841.jpg)

























