Minggu, 01 April 2012

Setelah sembilan tahun Muhammad diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan da’wah di kalangan kaumnya sendiri di sekitar kota Makkah untuk memperbaiki pola hidup mereka. Tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang bersedia memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya. Selebihnya selalu berusaha menggangu dan menghalangi beliau dan para pengikutnya dengan segala upaya yang ada. Diantara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Nabi adalah Abu Thalib, paman beliau sendiri, namun sayangnya ia tidak pernah memeluk Islam sampai akhir hayatnya.
Pada tahun kesepuluh setelah masa kenabian, Abu Thalib wafat. Dengan wafatnya Abu Thalib, pihak Kafir Quraisy merasa semakin leluasa menganggu dan menentang Nabi Shallallahu A’laihi Wasallam.
Tha’if merupakan kota terbesar kedua di kawasan Hijaz. Terletak 80 km dari kota Mekkah. Di sana terdapat Bani Tsaqif, suatu kabilah yang cukup kuat dan besar jumlah penduduknya. Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam-pun berangkat ke Tha’if dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk menerima Islam, dengan demikian beliau akan mendapat tempat berlindung bagi pemeluk-pemeluk Islam dari gangguan Kafir Quraisy. Beliau pun berharap dapat menjadikan Tha’if sebagai pusat kegiatan dakwah. Setibanya di sana, Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam mengujungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah Islam. Namun yang terjadi, mereka bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam–pun mereka tidak mau. Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam diperlakukan secara kasar. Sikap kasar mereka sungguh bertentangan dengan kebiasaan bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya. Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang apabila Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam dan pengikutnya tinggal di Tha’if. Semulah Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam membayangkan akan mendapat perlakuan yang sopan diiring tutur kata yang lemah lembut, tetapi ternyata beliau diejek dengan kata-kata kasar.
Salah seorang diantara mereka berkata sambil mengejek, “Benarkah Allah Subhanahu Wata’ala mengangkatmu menjadi seorang Rasul…?”. Yang lain berkata sambil tertawa, “Tidak dapatkah Allah Subhanahu Wata’ala memilih manusia selain kamu untuk menjadi utusan-Nya…?”. Ada juga yang berkata, “Jika engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak akan berbicara denganmu, karena perbuatan demikian itu akan mendatangkan bencana bagiku. Sebaliknya, jika kamu seorang pendusta, tidak ada gunanya aku berbicara kepadamu.”
Menghadapi perlakuan ketiga tokoh Bani Tsaqif yang demikian kasar itu, Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam yang memiliki sifat bersungguh-sungguh dan teguh pendirian, tidak menyebabkan mudah putus-asa dan kecewa. Setelah meninggalkan tokoh-tokoh Bani Tsaqif yang tidak dapat diharapkan itu, Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam mencoba mendatangi rakyat biasa, kali ini pun beliau mengalami kegagalan. Mereka mengusir Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam dari Tha’if dengan berkata, “Keluarlah kami dari kampung ini! Dan pergilah kemana yang kamu suka!”
Ketika Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam menyadari bahwa usahanya tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Tha’if. Tetapi penduduk Tha’if tidak membiarkan beliau keluar dengan tenang, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang demikian hebat sehingga tubuh beliau berlumuran darah. Dalam perjalanan pulang. Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam menjumpai tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut, kemudia beliau berdoa :
“Ya…Allah, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkamku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan masalahku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.”
Demikian sedihnya perasaan Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam saat itu. Sehingga Allah Subhanahu Wata’ala mengutus malaikat Jibril A’laihi Salam untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril A’laihi Salam memberi salam seraya berkata, “Allah Subhanahu Wata’ala mengetahui apa yang terjadi kepadamu dan orang-orang ini. Allah Subhanahu Wata’ala telah memerintahkan malaikat yang ada di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian Jibril A’laihi Salam memperlihatkan malaikat itu kepada Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam.
Malaikat itu-pun berkata, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”
Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam, dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”
Perhatikanlah teladan mulia yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu A’laihi Wasallam. Semoga kita sebagai umat beliau, selalu diberikan kekuatan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk berusaha mencontoh beliau dalam tingkah laku dan sifat-sifat beliau dengan segala daya upaya yang kita miliki. Amin.. []edit//Redaksi.
..:: WALLAHU A’LAM ::..
06.48 Smartvone
Setelah sembilan tahun Muhammad diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan da’wah di kalangan kaumnya sendiri di sekitar kota Makkah untuk memperbaiki pola hidup mereka. Tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang bersedia memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya. Selebihnya selalu berusaha menggangu dan menghalangi beliau dan para pengikutnya dengan segala upaya yang ada. Diantara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Nabi adalah Abu Thalib, paman beliau sendiri, namun sayangnya ia tidak pernah memeluk Islam sampai akhir hayatnya.
Pada tahun kesepuluh setelah masa kenabian, Abu Thalib wafat. Dengan wafatnya Abu Thalib, pihak Kafir Quraisy merasa semakin leluasa menganggu dan menentang Nabi Shallallahu A’laihi Wasallam.
Tha’if merupakan kota terbesar kedua di kawasan Hijaz. Terletak 80 km dari kota Mekkah. Di sana terdapat Bani Tsaqif, suatu kabilah yang cukup kuat dan besar jumlah penduduknya. Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam-pun berangkat ke Tha’if dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk menerima Islam, dengan demikian beliau akan mendapat tempat berlindung bagi pemeluk-pemeluk Islam dari gangguan Kafir Quraisy. Beliau pun berharap dapat menjadikan Tha’if sebagai pusat kegiatan dakwah. Setibanya di sana, Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam mengujungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah Islam. Namun yang terjadi, mereka bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam–pun mereka tidak mau. Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam diperlakukan secara kasar. Sikap kasar mereka sungguh bertentangan dengan kebiasaan bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya. Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang apabila Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam dan pengikutnya tinggal di Tha’if. Semulah Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam membayangkan akan mendapat perlakuan yang sopan diiring tutur kata yang lemah lembut, tetapi ternyata beliau diejek dengan kata-kata kasar.
Salah seorang diantara mereka berkata sambil mengejek, “Benarkah Allah Subhanahu Wata’ala mengangkatmu menjadi seorang Rasul…?”. Yang lain berkata sambil tertawa, “Tidak dapatkah Allah Subhanahu Wata’ala memilih manusia selain kamu untuk menjadi utusan-Nya…?”. Ada juga yang berkata, “Jika engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak akan berbicara denganmu, karena perbuatan demikian itu akan mendatangkan bencana bagiku. Sebaliknya, jika kamu seorang pendusta, tidak ada gunanya aku berbicara kepadamu.”
Menghadapi perlakuan ketiga tokoh Bani Tsaqif yang demikian kasar itu, Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam yang memiliki sifat bersungguh-sungguh dan teguh pendirian, tidak menyebabkan mudah putus-asa dan kecewa. Setelah meninggalkan tokoh-tokoh Bani Tsaqif yang tidak dapat diharapkan itu, Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam mencoba mendatangi rakyat biasa, kali ini pun beliau mengalami kegagalan. Mereka mengusir Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam dari Tha’if dengan berkata, “Keluarlah kami dari kampung ini! Dan pergilah kemana yang kamu suka!”
Ketika Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam menyadari bahwa usahanya tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Tha’if. Tetapi penduduk Tha’if tidak membiarkan beliau keluar dengan tenang, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang demikian hebat sehingga tubuh beliau berlumuran darah. Dalam perjalanan pulang. Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam menjumpai tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut, kemudia beliau berdoa :
“Ya…Allah, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkamku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan masalahku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.”
Demikian sedihnya perasaan Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam saat itu. Sehingga Allah Subhanahu Wata’ala mengutus malaikat Jibril A’laihi Salam untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril A’laihi Salam memberi salam seraya berkata, “Allah Subhanahu Wata’ala mengetahui apa yang terjadi kepadamu dan orang-orang ini. Allah Subhanahu Wata’ala telah memerintahkan malaikat yang ada di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian Jibril A’laihi Salam memperlihatkan malaikat itu kepada Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam.
Malaikat itu-pun berkata, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”
Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam, dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”
Perhatikanlah teladan mulia yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu A’laihi Wasallam. Semoga kita sebagai umat beliau, selalu diberikan kekuatan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk berusaha mencontoh beliau dalam tingkah laku dan sifat-sifat beliau dengan segala daya upaya yang kita miliki. Amin.. []edit//Redaksi.
..:: WALLAHU A’LAM ::..
:: Dua Tanda Cinta Kepada Nabi ::.
إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا .مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ. وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Kaum muslimim rahimakumullah…
Orang-orang yang benar-benar cinta, tentu akan mencari waktu dan kesempatan untuk dapat mengorbankan seluruh harta bahkan jiwa raganya, demi sang tambatan hati. Dan begitulah yang dilakukan oleh para sahabat yang menjalin cinta sejati dengan Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam. Kisah pengorbanan mereka telah terukir dalam tinta emas sejarah sepanjang masa dan zaman. Mereka begitu semangat mengorbankan segenap apa yang mereka punya.
Lihatlah! Begitu menakjubkan kisah Thalhah bin Ubaidillah. Kisah teladan bagi umat Islam dalam ladang perjuangan dan pengorbanan. Marilah kita telaah riwayat yang disampaikan oleh Jabir bin Abdullah rodhiallohu anhu, dia berkata, “Di waktu perang Uhud, ketika umat Islam sudah lari meninggalkan medan pertempuran. Maka pasukan yang bertahan tinggal dua belas orang ditambah dengan Rasulullah sholallohu alaihi wasalam, termasuk di dalamnya Thalhah bin Ubaidillah rodhiallohu anhu. Pasukan Rasulullah sholallohu alaihi wasalam ini pun kemudian diketahui juga oleh kaum Quraisy dan mereka pun diserang. Menghadapi masalah ini, maka beliau  menoleh kepada mereka (kedua belas sahabat beliau) seraya berkata, ‘Siapa yang akan menghadapi musuh?’ Thalhah menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah!’ Rasulullah sholallohu alaihi wasalam bertanya lagi, ‘Siapa lagi selain Thalhah?’ Salah seorang Anshar berkata, ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Rasulullah sholallohu alaihi wasalam menjawab, ‘Ya kamu!’ Lalu orang itu maju ke medan laga dan ia pun gugur sebagai syahid.
Kemudian beliau menoleh lagi, tiba-tiba kaum musyrik ini hendak melancarkan serangan. Maka Rasulullah sholallohu alaihi wasalam bertanya, ‘Siapa yang akan menghadapi musuh?’ Thalhah menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah!’ Rasulullah sholallohu alaihi wasalam berkata, ‘Siapa lagi selain Thalhah?’  Seorang Anshar menyahut, ‘Saya, ya Rasulullah!’ Rasulullah sholallohu alaihi wasalam berkata, ‘Ya kamu!’ Maka orang Anshar itu pun berjuang ke medan pertempuran sehingga ia pun gugur sebagai syahid. Dan begitulah seterusnya, sampai akhirnya yang tersisa dari dua belas orang pasukan Muslimin di samping Rasul sholallohu alaihi wasalam adalah Thalhah bin Ubaidillah rodhiallohu anhu. Maka kala itu Rasulullah sholallohu alaihi wasalam bertanya, ‘Siapa yang akan menghadapi musuh? Thalhah menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah!’ Maka Thalhah pun maju ke arena peperangan menggantikan kesebelas syuhada pasukan Muslimin.
Ketika tangannya terkena pukulan dan hantaman musuh, serta jari-jarinya tertebas pedang mereka, Thalhah hanya berkomentar, ‘Ini sekadar gigitan belaka…’ Maka Rasulullah sholallohu alaihi wasalam bersabda, ‘Jika kamu mengatakan bismillah, maka malaikat pun akan mengangkatmu dan manusia akan menyaksikan.’ Kemudian Allah pun mencerai-beraikan pasukan musyrikin itu.” (HR. Nasa’i).
Alangkah tingginya semangat juang Thalhah bin Ubaidillah bersama sebelas sahabatnya. Mereka pertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi kekasih tercinta, Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam di dalam menegakkan agama Allah. Inilah tanda cinta hakiki. Cinta yang nyata bukan angan-angan dan pengakuan belaka.
Kaum muslimim rahimakumullah…
Telah menjadi suatu ketetapan bahwa orang yang menjalin cinta dengan kekasihnya, pasti akan patuh kepada orang yang dicintainya itu. Ia akan berusaha melaksanakan apa yang disukai oleh kekasihnya dan berusaha sekuat tenaga berupaya menghindari hal-hal yang dibencinya. Begitupun cinta kepada Nabi sholallohu alaihi wasalam, akan memotivasi seseorang untuk komitmen terhadap perintah dan larangannya.
Kisah kasih para sahabat terhadap Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam telah terukir dalam berbagai kitab sirah. Berikut kami suguhkan kepada para jama’ah sikap mereka terhadap kekasih setianya, Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam.
1. Segera menuangkan khamer ke jalan-jalan.
Para sahabat yang benar-benar menjalin cinta sejati kepada Nabi sholallohu alaihi wasalam, tidak hanya menghentikan apa yang menjadi hobi mereka, tetapi lebih dari itu mereka pun bersedia dengan lapang dada dan ridha untuk meninggalkan tradisi-tradisi yang membudaya di kalangan mereka.
Dari Anas bin Malik rodhiallohu anhu, dia berkata: “Suatu ketika aku memberi mimun khamer di rumah Abu Thalhah rodhiallohu anhu, dan khamer mereka waktu itu adalah yang paling rendah mutunya. Lalu Rasulullah sholallohu alaihi wasalam memerintahkan seseorang penyeru untuk memberitahukan kepada khalayak, ‘Sesungguhnya khamer telah kuharamankan’. Lalu Abu Thalhah berkata kepadaku, ‘Keluarkanlah kendi itu dan tuangkanlah seluruh isinya!’ Maka kendi itu pun aku keluarkan dan isinya kutuangkan hingga habis di sepanjang jalan di Madinah.” (HR. Bukhari).
2. Segera menjauhi memakan daging himar (keledai).
Salah satu bukti kecintaan para sahabat terhadap Nabi sholallohu alaihi wasalam, adalah bahwa ketika mereka dilarang untuk menikmati hal-hal yang menjadi kesukaan mereka, spontan mereka pun segera menjauhi dan menghindarinya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik sholallohu alaihi wasalam, bahwasanya suatu ketika telah datang kepada Nabi sholallohu alaihi wasalam seorang sahabat, lalu ia berkata, “Nabi sholallohu alaihi wasalam tidak berkomentar sedikit pun. Lalu orang itu datang untuk kedua kalinya kepada beliau dan ia pun berkata, “Daging himar telah dimakan.” Nabi pun diam, tidak menjawab. Pada kali ketiga, orang itu datang lagi dan berkata, “Himar telah habis (dimasak).” Maka Nabi sholallohu alaihi wasalam menyuruh seorang munadi (juru penyeru) agar mengumumkan kepada segenap umat Islam, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah melarang kalian makan daging himar.” Maka seketika itu pula periuk-periuk yang berisi masakan daging himar yang sudah matang dituangkan ke tanah. (HR. Bukhari).
3. Segera melepas gelang.
Demikian pula yang terjadi pada para sahabat wanita, saat mendengar peringatan dari Rasul sholallohu alaihi wasalam perihal pemakaian perhiasan gelang emas yang tidak dizakati. Maka mereka segera pula menanggalkan perhiasannya.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr rodhiallohu anhu. Dia berkata, “Suatu ketika seorang wanita datang menemui Rasulullah sholallohu alaihi wasalam bersama putrinya yang mengenakan sepasang gelang emas di tangannya. Maka Rasulullah  bertanya, ‘Apakah engkau mengeluarkan zakat atas perhiasan gelang emas itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Tidak!’
Nabi sholallohu alaihi wasalam pun bersabda, ‘Apakah kamu mau jika kelak pada hari Kiamat kamu mendapatkan gelang dari api lantaran sepasang gelang yang engkau pakai itu?’
Lalu wanita tersebut melepas gelangnya dan menyerahkannya kepada Rasulullah sholallohu alaihi wasalam, seraya berkata, ‘Sepasang gelang ini adalah milik Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Abu Daud).
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْﺁن الْعَظِيْمِ وَ نَفَعَنِي وَ إِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاۤيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ .أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا   وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH II
إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ، نَحْمَدَهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Kaum muslimim rahimakumullah…
Marilah kita mempertebal keimanan kepada Rasulullah sholallohu alaihi wasalam sekaligus melaksanakan segala kandungan keimanan kepadanya dengan bersungguh-sungguh untuk melaksanakan hal-hal sebagai berikut;
1.    Berkorban dengan harta dan jiwa untuk menyebarkan ajaran Rasulullah sholallohu alaihi wasalam.
2.    Ikhlas mentaati Rasulullah sholallohu alaihi wasalam dengan melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan beliau. Allah ta’ala  berfirman :
﴿ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“Dan jika kalian taat kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk.” (QS. an-Nur [24]: 54)
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي اْلأُمُوْرِ، وَنَسْأَلُكَ عَزِيْمَةَ الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِكُلَّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لََعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
06.47 Smartvone
:: Dua Tanda Cinta Kepada Nabi ::.
إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا .مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ. وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Kaum muslimim rahimakumullah…
Orang-orang yang benar-benar cinta, tentu akan mencari waktu dan kesempatan untuk dapat mengorbankan seluruh harta bahkan jiwa raganya, demi sang tambatan hati. Dan begitulah yang dilakukan oleh para sahabat yang menjalin cinta sejati dengan Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam. Kisah pengorbanan mereka telah terukir dalam tinta emas sejarah sepanjang masa dan zaman. Mereka begitu semangat mengorbankan segenap apa yang mereka punya.
Lihatlah! Begitu menakjubkan kisah Thalhah bin Ubaidillah. Kisah teladan bagi umat Islam dalam ladang perjuangan dan pengorbanan. Marilah kita telaah riwayat yang disampaikan oleh Jabir bin Abdullah rodhiallohu anhu, dia berkata, “Di waktu perang Uhud, ketika umat Islam sudah lari meninggalkan medan pertempuran. Maka pasukan yang bertahan tinggal dua belas orang ditambah dengan Rasulullah sholallohu alaihi wasalam, termasuk di dalamnya Thalhah bin Ubaidillah rodhiallohu anhu. Pasukan Rasulullah sholallohu alaihi wasalam ini pun kemudian diketahui juga oleh kaum Quraisy dan mereka pun diserang. Menghadapi masalah ini, maka beliau  menoleh kepada mereka (kedua belas sahabat beliau) seraya berkata, ‘Siapa yang akan menghadapi musuh?’ Thalhah menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah!’ Rasulullah sholallohu alaihi wasalam bertanya lagi, ‘Siapa lagi selain Thalhah?’ Salah seorang Anshar berkata, ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Rasulullah sholallohu alaihi wasalam menjawab, ‘Ya kamu!’ Lalu orang itu maju ke medan laga dan ia pun gugur sebagai syahid.
Kemudian beliau menoleh lagi, tiba-tiba kaum musyrik ini hendak melancarkan serangan. Maka Rasulullah sholallohu alaihi wasalam bertanya, ‘Siapa yang akan menghadapi musuh?’ Thalhah menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah!’ Rasulullah sholallohu alaihi wasalam berkata, ‘Siapa lagi selain Thalhah?’  Seorang Anshar menyahut, ‘Saya, ya Rasulullah!’ Rasulullah sholallohu alaihi wasalam berkata, ‘Ya kamu!’ Maka orang Anshar itu pun berjuang ke medan pertempuran sehingga ia pun gugur sebagai syahid. Dan begitulah seterusnya, sampai akhirnya yang tersisa dari dua belas orang pasukan Muslimin di samping Rasul sholallohu alaihi wasalam adalah Thalhah bin Ubaidillah rodhiallohu anhu. Maka kala itu Rasulullah sholallohu alaihi wasalam bertanya, ‘Siapa yang akan menghadapi musuh? Thalhah menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah!’ Maka Thalhah pun maju ke arena peperangan menggantikan kesebelas syuhada pasukan Muslimin.
Ketika tangannya terkena pukulan dan hantaman musuh, serta jari-jarinya tertebas pedang mereka, Thalhah hanya berkomentar, ‘Ini sekadar gigitan belaka…’ Maka Rasulullah sholallohu alaihi wasalam bersabda, ‘Jika kamu mengatakan bismillah, maka malaikat pun akan mengangkatmu dan manusia akan menyaksikan.’ Kemudian Allah pun mencerai-beraikan pasukan musyrikin itu.” (HR. Nasa’i).
Alangkah tingginya semangat juang Thalhah bin Ubaidillah bersama sebelas sahabatnya. Mereka pertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi kekasih tercinta, Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam di dalam menegakkan agama Allah. Inilah tanda cinta hakiki. Cinta yang nyata bukan angan-angan dan pengakuan belaka.
Kaum muslimim rahimakumullah…
Telah menjadi suatu ketetapan bahwa orang yang menjalin cinta dengan kekasihnya, pasti akan patuh kepada orang yang dicintainya itu. Ia akan berusaha melaksanakan apa yang disukai oleh kekasihnya dan berusaha sekuat tenaga berupaya menghindari hal-hal yang dibencinya. Begitupun cinta kepada Nabi sholallohu alaihi wasalam, akan memotivasi seseorang untuk komitmen terhadap perintah dan larangannya.
Kisah kasih para sahabat terhadap Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam telah terukir dalam berbagai kitab sirah. Berikut kami suguhkan kepada para jama’ah sikap mereka terhadap kekasih setianya, Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasalam.
1. Segera menuangkan khamer ke jalan-jalan.
Para sahabat yang benar-benar menjalin cinta sejati kepada Nabi sholallohu alaihi wasalam, tidak hanya menghentikan apa yang menjadi hobi mereka, tetapi lebih dari itu mereka pun bersedia dengan lapang dada dan ridha untuk meninggalkan tradisi-tradisi yang membudaya di kalangan mereka.
Dari Anas bin Malik rodhiallohu anhu, dia berkata: “Suatu ketika aku memberi mimun khamer di rumah Abu Thalhah rodhiallohu anhu, dan khamer mereka waktu itu adalah yang paling rendah mutunya. Lalu Rasulullah sholallohu alaihi wasalam memerintahkan seseorang penyeru untuk memberitahukan kepada khalayak, ‘Sesungguhnya khamer telah kuharamankan’. Lalu Abu Thalhah berkata kepadaku, ‘Keluarkanlah kendi itu dan tuangkanlah seluruh isinya!’ Maka kendi itu pun aku keluarkan dan isinya kutuangkan hingga habis di sepanjang jalan di Madinah.” (HR. Bukhari).
2. Segera menjauhi memakan daging himar (keledai).
Salah satu bukti kecintaan para sahabat terhadap Nabi sholallohu alaihi wasalam, adalah bahwa ketika mereka dilarang untuk menikmati hal-hal yang menjadi kesukaan mereka, spontan mereka pun segera menjauhi dan menghindarinya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik sholallohu alaihi wasalam, bahwasanya suatu ketika telah datang kepada Nabi sholallohu alaihi wasalam seorang sahabat, lalu ia berkata, “Nabi sholallohu alaihi wasalam tidak berkomentar sedikit pun. Lalu orang itu datang untuk kedua kalinya kepada beliau dan ia pun berkata, “Daging himar telah dimakan.” Nabi pun diam, tidak menjawab. Pada kali ketiga, orang itu datang lagi dan berkata, “Himar telah habis (dimasak).” Maka Nabi sholallohu alaihi wasalam menyuruh seorang munadi (juru penyeru) agar mengumumkan kepada segenap umat Islam, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah melarang kalian makan daging himar.” Maka seketika itu pula periuk-periuk yang berisi masakan daging himar yang sudah matang dituangkan ke tanah. (HR. Bukhari).
3. Segera melepas gelang.
Demikian pula yang terjadi pada para sahabat wanita, saat mendengar peringatan dari Rasul sholallohu alaihi wasalam perihal pemakaian perhiasan gelang emas yang tidak dizakati. Maka mereka segera pula menanggalkan perhiasannya.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr rodhiallohu anhu. Dia berkata, “Suatu ketika seorang wanita datang menemui Rasulullah sholallohu alaihi wasalam bersama putrinya yang mengenakan sepasang gelang emas di tangannya. Maka Rasulullah  bertanya, ‘Apakah engkau mengeluarkan zakat atas perhiasan gelang emas itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Tidak!’
Nabi sholallohu alaihi wasalam pun bersabda, ‘Apakah kamu mau jika kelak pada hari Kiamat kamu mendapatkan gelang dari api lantaran sepasang gelang yang engkau pakai itu?’
Lalu wanita tersebut melepas gelangnya dan menyerahkannya kepada Rasulullah sholallohu alaihi wasalam, seraya berkata, ‘Sepasang gelang ini adalah milik Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Abu Daud).
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْﺁن الْعَظِيْمِ وَ نَفَعَنِي وَ إِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاۤيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ .أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا   وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH II
إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ، نَحْمَدَهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Kaum muslimim rahimakumullah…
Marilah kita mempertebal keimanan kepada Rasulullah sholallohu alaihi wasalam sekaligus melaksanakan segala kandungan keimanan kepadanya dengan bersungguh-sungguh untuk melaksanakan hal-hal sebagai berikut;
1.    Berkorban dengan harta dan jiwa untuk menyebarkan ajaran Rasulullah sholallohu alaihi wasalam.
2.    Ikhlas mentaati Rasulullah sholallohu alaihi wasalam dengan melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan beliau. Allah ta’ala  berfirman :
﴿ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“Dan jika kalian taat kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk.” (QS. an-Nur [24]: 54)
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي اْلأُمُوْرِ، وَنَسْأَلُكَ عَزِيْمَةَ الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِكُلَّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لََعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Turunlah kalian berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepada kalian petunjuk-Ku, siapapun yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha [20]: 123).

Ayat ini menggambarkan pesan Allah Subhanahu Wata’ala di gerbang surga kepada Adam ‘Alaihi Salam dan Hawa yang berarti juga untuk seluruh keturunan-nya, yaitu manusia. Pesan yang berisi untuk meniti dan mengikuti hanya satu jalan, yaitu hidayah-Nya. Hidayah-Nya –menurut para ulama tafsir- adalah kitab-kitab dan rosul-rosul-Nya. (at-Tahrir wa at-Tanwir: 16/330).
Ittiba (kesetiaan mengikuti) Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan sumber berbagai kemuliaan dan kebangkitan sejati di dunia dan di akhirat.k
Hidayah Allah Subhanahu Wata’ala akan didapat dengan ittiba kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. (QS. al-Maidah [5]:15-16).
Kesuksesan diraih dengan mengimani Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, mendukung, bersikap loyal dan ber-ittiba kepadanya. (QS. al-A’raf [7]: 157).
Keteguhan meniti kebenaran hanya tercapai dengan berittiba` kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. (QS. Ali Imran [3]:173-174).
Begitu pula kemenangan dan kebangkitan peran sebagai khalifah di muka bumi hanya terbukti dengan berittiba’ kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. (QS. al-An’am [6]: 64).
Ini di dunia, lalu di akhirat?
Di akhirat, mereka yang berittiba akan berada di dalam barisan orang-orang yang loyal kepada para Nabi dan Rasul Allah Subhanahu Wata’ala. (QS. Ali Imran [3]: 68).
Derajat yang mereka capai di akhirat kelak akan mengucur pula untuk anak cucu keturunan mereka yang beriman bersama mereka. (QS. ath-Thur [52]: 21).
Semua rasa takut dan duka tak mungkin lagi terjangkit di jiwa-jiwa mereka. Semua penuh ketentraman, kedamaian, kemuliaan dan kebaha-giaan tiada tara. (QS. al-Baqarah [2]: 38).
Tak ada satu keselamatan dan kehormatan tanpa pengikutan yang setia kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Semua fenomena kehormatan tanpa kesetiaan mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam akan musnah, sekalipun dibangun dalam waktu yang relatif lama.
Bahkan, sejarah telah membuktikan bahwa kemuliaan dan kejayaan yang sudah dibangun dan digenggam pun ternyata gugur dan hancur, saat ittiba’ mulia luluh lantak dipendam dalam kubur.
Dr. Ahmad Muhammad Shollabi dalam sebuah bukunya yang berjudul “Ad Daulatul `Utsma-niyyah; ‘Awamilun Nuhudh wa Asbabus Suquth” (Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah) menguraikan salah satu sebab utama runtuhnya khilafah penjaga kejayaan dan kemuliaan Islam:
“Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di masa itu menjadi suatu hal yang sangat aneh, setelah diterpa topan badai bid`ah dengan demikian besar. Manusia bahkan berubah pandangan dengan beranggapan, bahwa bid’ah-bid’ah yang ada itu adalah inti dari agama. Mereka tidak ingin meninggalkannya, na-mun pada saat yang sama mereka telah melalaikan hukum-hukum Islam. Mereka berjuang demi bid’ah-bid’ah itu, bersumpah setia untuknya. Mereka melihat bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebagai pengabdian terhadap agama dan kaum Muslimin”.
Sayangnya keimanan tentang hal ini memudar bahkan hampir membeku mati di tengah-tengah umat Islam. Apa yang bisa diharapkan jika gerakan-gerakan Islam membangun persatuan di atas pemretelan ajaran-ajaran sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam? Cita-cita penegakan khilafah telah mengharuskan para pengusungnya lupa tentang kemurnian ajaran-ajaran yang telah disepakati oleh para sohabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam?
Lihatlah realita di sekeliling umat saat ini, ketika ittiba (kesetiaan mengikuti) Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kosong dalam jiwa dan realita mereka. Bumi pun mengingkari mereka, dunia merendahkan mereka dan mereka terlempar di belakang kafilah kehidupan bangsa.
Ingatlah pesan seorang sohabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang diberi gelar turjumanul Qur`an, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu :
“Allah Subhanahu Wata’ala menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan berittiba dengan seluruh kandungannya, pasti tidak akan sesat di dunia dan tak akan celaka di akhirat.” (Jami` al-Bayan: 16/235). (Admin-HASMI).
06.46 Smartvone

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Turunlah kalian berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepada kalian petunjuk-Ku, siapapun yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha [20]: 123).

Ayat ini menggambarkan pesan Allah Subhanahu Wata’ala di gerbang surga kepada Adam ‘Alaihi Salam dan Hawa yang berarti juga untuk seluruh keturunan-nya, yaitu manusia. Pesan yang berisi untuk meniti dan mengikuti hanya satu jalan, yaitu hidayah-Nya. Hidayah-Nya –menurut para ulama tafsir- adalah kitab-kitab dan rosul-rosul-Nya. (at-Tahrir wa at-Tanwir: 16/330).
Ittiba (kesetiaan mengikuti) Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan sumber berbagai kemuliaan dan kebangkitan sejati di dunia dan di akhirat.k
Hidayah Allah Subhanahu Wata’ala akan didapat dengan ittiba kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. (QS. al-Maidah [5]:15-16).
Kesuksesan diraih dengan mengimani Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, mendukung, bersikap loyal dan ber-ittiba kepadanya. (QS. al-A’raf [7]: 157).
Keteguhan meniti kebenaran hanya tercapai dengan berittiba` kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. (QS. Ali Imran [3]:173-174).
Begitu pula kemenangan dan kebangkitan peran sebagai khalifah di muka bumi hanya terbukti dengan berittiba’ kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. (QS. al-An’am [6]: 64).
Ini di dunia, lalu di akhirat?
Di akhirat, mereka yang berittiba akan berada di dalam barisan orang-orang yang loyal kepada para Nabi dan Rasul Allah Subhanahu Wata’ala. (QS. Ali Imran [3]: 68).
Derajat yang mereka capai di akhirat kelak akan mengucur pula untuk anak cucu keturunan mereka yang beriman bersama mereka. (QS. ath-Thur [52]: 21).
Semua rasa takut dan duka tak mungkin lagi terjangkit di jiwa-jiwa mereka. Semua penuh ketentraman, kedamaian, kemuliaan dan kebaha-giaan tiada tara. (QS. al-Baqarah [2]: 38).
Tak ada satu keselamatan dan kehormatan tanpa pengikutan yang setia kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Semua fenomena kehormatan tanpa kesetiaan mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam akan musnah, sekalipun dibangun dalam waktu yang relatif lama.
Bahkan, sejarah telah membuktikan bahwa kemuliaan dan kejayaan yang sudah dibangun dan digenggam pun ternyata gugur dan hancur, saat ittiba’ mulia luluh lantak dipendam dalam kubur.
Dr. Ahmad Muhammad Shollabi dalam sebuah bukunya yang berjudul “Ad Daulatul `Utsma-niyyah; ‘Awamilun Nuhudh wa Asbabus Suquth” (Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah) menguraikan salah satu sebab utama runtuhnya khilafah penjaga kejayaan dan kemuliaan Islam:
“Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di masa itu menjadi suatu hal yang sangat aneh, setelah diterpa topan badai bid`ah dengan demikian besar. Manusia bahkan berubah pandangan dengan beranggapan, bahwa bid’ah-bid’ah yang ada itu adalah inti dari agama. Mereka tidak ingin meninggalkannya, na-mun pada saat yang sama mereka telah melalaikan hukum-hukum Islam. Mereka berjuang demi bid’ah-bid’ah itu, bersumpah setia untuknya. Mereka melihat bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebagai pengabdian terhadap agama dan kaum Muslimin”.
Sayangnya keimanan tentang hal ini memudar bahkan hampir membeku mati di tengah-tengah umat Islam. Apa yang bisa diharapkan jika gerakan-gerakan Islam membangun persatuan di atas pemretelan ajaran-ajaran sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam? Cita-cita penegakan khilafah telah mengharuskan para pengusungnya lupa tentang kemurnian ajaran-ajaran yang telah disepakati oleh para sohabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam?
Lihatlah realita di sekeliling umat saat ini, ketika ittiba (kesetiaan mengikuti) Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kosong dalam jiwa dan realita mereka. Bumi pun mengingkari mereka, dunia merendahkan mereka dan mereka terlempar di belakang kafilah kehidupan bangsa.
Ingatlah pesan seorang sohabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang diberi gelar turjumanul Qur`an, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu :
“Allah Subhanahu Wata’ala menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan berittiba dengan seluruh kandungannya, pasti tidak akan sesat di dunia dan tak akan celaka di akhirat.” (Jami` al-Bayan: 16/235). (Admin-HASMI).