Kafil Yamin
SATU-satunya sumber penghidupan yang terlihat Ni Wayan Mertayani,
gadis Bali berusia 9 tahun, adalah sampah-sampah plastik yang
berserakan di sepanjang pantai Kuta, Bali.
Maka, ia mulai memungut sampah-sampah itu – botol bekas minuman
mineral, kantong-kantong, kemasan makanan – lalu dijualnya ke penampung
sampah plastik.
Inilah cara agar bisa bertahan di sekolah dan merawat ibunya yang
sakit cukup parah – radang lambung – setelah ayahandanya meninggal
beberapa hari lalu. Dengan demikian, ia bisa berbagi tugas dengan
adiknya yang juga perempuan. Sementara ia memulung, adiknya menjaga sang
ibu.
Ni Wayan tahu bahwa pekerjaan ini akan mengundang cibiran
teman-temannya dan orang-orang sekitar. Apa boleh buat. Ia akan hadapi
semua cibiran dan pandangan merendahkan itu.
Kenyatannya, yang terjadi lebih dari yang ia bayangkan. Ni Wayan
bukan sekedar sering menghadapi cibiran dan pandangan merendahkan, tapi
juga tuduhan dan fitnah. Bila ada barang hilang di kelas, entah pulpen,
entah buku, hampir semua orang secara ‘alamiah’ mencurigainya sebagai si
pencuri.

Ni Wayan dapat kamera
Dengan kesadaran akan harga diri dan kehormatan, Ni Wayan selalu bisa
membuktikan – seringkali dengan cara ‘perang’ – bahwa kecurigaan orang
itu tidak benar.
Bagusnya, semua sinisme dan cibiran itu malah jadi energi besar buat
Ni Wayan untuk menjadi ‘orang’. Tentu ia tak sudi jadi pemulung
selamanya. Ia harus pintar. Ah, ini bukan perkara harus atau semangat
hidup yang coba dihidup-hidupkan karena pepatah, kata-kata mutiara atau
apa. Ini karena dorongan hati saja, Ni Wayan memang senang mencari tahu;
mendapat pengetahuan baru; setiap hari.
Kebetulan, selama memulung, ia sering melewati sebuah rumah istirahat [
cottage]
milik seorang Belanda, Marie Johana Fardan, di situ ada perpustakaan
kecil. Tak segan Ni Wayan menemui pemilik rumah singgah itu dan bertanya
apakah ia bisa ikut membaca buku-buku yang ada di sana. Pucuk dicinta
ulam tiba, si ‘ahlul bait’ malah senang dengan minat gadis manis kecil
itu.
Maka, seusai sekolah dan memulung, Ni Wayan mengunjungi perpustakaan
itu secara berkala. Sering kali si pemilik meminjamkan bukunya untuk di
bawa pulang. Tentu Ni Wayan senang dan minatnya akan baca-tulis makin
bersemi.
Suatu saat ia bertemu dengan seorang wisatawati Belanda yang baik
hati, Dolly Amarhoseija. Melihat gadis kecil itu rela berpanas-panas
memunguti sampah di pantai, ia merasa simpati dan meminjamkannya sebuah
kamera digital.
Kamera digital? Buat apa? Ia tak pernah memotret. Kalau pun ia nanti
bisa memotret, buat apa? Apa bisa dijual untuk membeli obat dan makanan
buat ibunya?
Si peminjam mengajarkan cara mengoperasikan kamera itu. Gampang
memang. Tinggal hidupkan. Arahkan kamera ke sasaran yang hendak
dipotret, dan jepret. Hasilnya bisa dilihat seketika itu juga. Eh,
ternyata memotret menyenangkan!
Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang menyenangkan. Di
sela-sela memulung, bila melihat pemandangan atau sasaran yang bagus
untuk diabadikan, maka: pret! Pret! Pret! Ia memainkan kameranya
menangkap objek dari setiap sudut.
Setelah jepret sana-jepret sini. Ia ingin melihat bagaimana persisnya
gambar yang dihasilkan. Di Kuta banyak penyewaan komputer untuk sekedar
melihat foto-foto itu dalam layar komputer. Setelah dilihat, hasilnya
mengasyikkan.

Foto Ni Wayan yang memenangi lomba
Ni Wayan tak pernah belajar fotografi atau jurnalistik foto. Karena
itu ia tak tahu kriteria foto yang bagus itu yang bagaimana, tap rasa
artisitik alamiah dalam dirinya mengatakan foto itu bagus. Buktinya, ia
sangat menyukainya.
Setelah puas, Wayan pun mengembalikan kamera itu dengan hasil
jepretannya kepada Dolly, yang terkaget-kaget melihat hasilnya. Dalam
penglihatannya, foto-foto Wayan sangat artistik, bernas, menggambarkan
‘sesuatu’.
Karena dianggap bagus, atas seizin Wayan, foto tersebut dikirim Dolly
ke panitia lomba foto internasional 2009 yang dihelat Yayasan Anne
Frank.
Dolly bilang tema lomba foto tahun ini adalah ‘Apa Keinginan
Terbesarmu’. Di dalam foto yang menang itu, Wayan memperlihatkan seekor
ayam bertengger di cabang-cabang pohon saat sore hari. Di bawahnya ada
jemuran seperti handuk dan baju. Foto inilah yang dikirim Dolly ke
panitia lomba.
Ia melihat ayam itu seperti dirinya, yang ‘menclok’ di batang yang
rapuh, di bawah terik matahari. Bila hujan turun, sekujur badan ayam
akan terguyur.
Tiga bulan kemudian. Ketika sedang asyik memulung, adiknya berlari
mendatanginya membawa surat dari panitia lomba. Segera Ni Wayan membuka
surat itu. Jelas sudah, foto hasil jepretannya memenangi lomba bergengsi
internasional itu! Bukan sekedar masuk finalis, sepuluh besar atau lima
besar, tapi juara pertama!
Untuk beberapa saat. Ia hanya terdiam. Demikian pula adiknya. Ya
Tuhan, seorang pemulung, warga rendahan, penghuni gubuk di Pantai Amed,
Karangasem, Bali, memenangi lomba foto internasional!
Ia diundang ke Belanda untuk menerima hadiah itu.
Pada tanggal 3 Mei 2010, di Amsterdam, Belanda, seorang gadis kecil,
dengan kebaya putih dan kamen biru, busana khas Bali, menerima hadiah
dari Annemarie Becker. Itulah Wayan Mertayani, gadis asal Banjar
Biasiantang, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem, Bali . Hadiah
yang diterimanya adalah kamera Canon G11, buku-buku tentang Anne Frank,
dan fotonya sendiri yang menang lomba itu.
Dua belas juri dari World Press Photo mengatakan, semua unsur dalam foto Wayan bekerja sangat bagus. “
The
shape of the tree, the one chicken up in the branches, the color and
light. They all work in its favor. All of this relays the photographer’s
reality through subtle symbolism,” tulis juri di dalam
website resmi Yayasan Anne Frank.
Ketika itu, tak ada jalan sulit lagi bagi cita-citanya. Wayan ingin menjadi wartawan.
Bahkan hari ini, ia telah menjadi wartawan dan kisah hidupnya dibukukan dengan judul ‘Potret Terindah dari Bali’.
Seperti biasa, sekarang orang rame-rame mendaulatnya sebagai
‘mengharumkan nama Indonesia’. Negara yang tak pernah peduli akan
nasibnya, negara yang tak pernah menyantuni ibunya yang sekian lama
terbaring antara hidup dan mati, negara yang membual tentang pendidikan
gratis tapi kenyataan sebaliknya